BAGASKARA MANJER KAWURYAN
Showing posts with label Resonansi. Show all posts
Showing posts with label Resonansi. Show all posts

Monday, July 19, 2010

SUDIKAH ENGKAU AYAH DONGENGI, NAK?[1]

Sudikah engkau ayah dongengi, nak? Ini tentang kisah yang lain. Bukan tentang cerita upin ipin kesukaan mu yang selalu ayah dongeng kan itu setiap malam menjelang engkau tidur. Lalu engkau selalu minta lagi dan lagi sampai ayah mu lelah dan tertidur. Sedang engkau masih terjaga, terus merajuk meminta ayah mu ini sambil memegang boneka upin mu, menirukan suara upin, ipin, ka ros dan opa.

Sudikah engkau ayah dongengi, nak? Ini kisah kehidupan dan masa depan. Mungkin akan ayah bumbui dengan cerita-cerita Mahabharata kesukaan ayah. Engkau tidak keberatan kan, nak? Malam ini ayah ingin sekali cerita tentang kehidupan orang dewasa. Meskipun kamu, anak ku, masih anak-anak tapi suatu saat engkau akan dewasa. Cerita ini penting, anak ku.

Kemarin ayah lihat di televisi ada ribut antar sesama anak bangsa. Korban pun berjatuhan, nak. Sungguh mengerikan. Tidak kah kau melihat itu di televisi? Ah, pasti kau tidak melihat nya, nak. Sebab engkau anak ku hanya menonton, pagi hari Si Pororo, Sore Upin Ipin, sedang kan malam kau meminta nonton Opera Van Java. Seharusny engkau, nak, sesekali melihat berita, agar engkau tahu kondisi bangsa kita. Ada anggota dewan kita saling menghujat bahkan hampir adu jotos. Kasus korupsi yang silih berganti. Dan yang paling terbaru, nak, tentang ributnya warga tanjung priok dengan Satpol PP. bahkan ada yang meninggal dalam kerusuhan ini. ayah sedih, nak.apakah kamu juga ikut sedih?.

Mungkin engkau bertanya anak ku “ siapa yang salah, yah. Satpol PP atau Warga Tanjung Priuk”. Ayah tahu kamu akan bertanya seperti itu, anak ku. Dan aku ayah mu pasti akan kebingungan menjawab pertanyaan itu. Tahu kah engkau anak ku, Satpol PP juga adalah rakyat, mereka juga menjalankan tugas dan pekerjaan. Mereka bekerja dan bertugas juga demi keluarga mereka yang juga adalah rakyat, sama seperti kita. Dan warga Tanjung Priuk juga adalah rakyat yang sedang mempertahankan hak nya, mereka juga adalah rakyat yang harus dibela. Jika engkau bertanya, anak ku, siapa yang salah diantara mereka. Ayah hanya bisa berkata entah lah nak, jalan kehidupan begitu rumit, mana yang benar mana yang tidak terlihat sangat samar-samar,bahkan orang yang paling bijaksana pun hanya bisa menduga-duga.[bersambung]

Tuesday, September 09, 2008

SERGAPAN RASA MEMILIKI

.milik nggendhong lali..
rasa memiliki membawa kelalaian
-peribahasa Jawa-

Salman Al Farisi memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.
Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. Madinah bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.
”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.
”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.
”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.
”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”
Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.
Allahu Akbar!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”
♥♥♥

Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.
Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..
Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..

Source: buku baru Salim A. Fillah : Jalan Cinta Para Pejuang/Gairah/ Sergapan Rasa Memiliki, by Pro-U Media 2008

Wednesday, February 27, 2008

BELAJARLAH DARI SINGAPURA

Belajarlah ke negri singapura. Judul tulisan ini memang terkesan semakin mengecilkan bangsa sendiri. Bangsa kita, Indonesia, adalah bangsa besar. Mungkin begitu fikiran yang ada didalam benak kita. Lalu kenapa kita harus belajar dari Singapura. Negara yang secara teritorial kecil dan juga selalu menyakiti hati bangsa Indonesia. Namun, tak ada salahnya kita belajar dari siapapun, hatta dari orang yang kita anggap musuh sekalipun, begitu orang bijak berpesan.
Dulu, saat awal perekonomian Singapura melaju pesat. Singapura tetap menjadi negara yang cemas. Di tangan Lee Kuan Yew rakyat Singapura diajak selalu siaga. Kepada bangsanya Lee berpidato bahwa masih banyak hal yang masih tidak beres yang harus terus diperbaiki. Lee tidak ingin rakyatnya terlena dengan pertumbuhan ekonomi yang melaju pesat sebab jika rakyatnya terninabobokan dengan pertumbuhan yang luar biasa itu, bisa jadi malah setelah itu ekonomi Singapura terjun bebas.
Barangkali itulah salah satu resep Lee Kuan Yew untuk menjadikan Singapura tetap siaga. Lee tidak pernah mengajak rakyatnya untuk bicara sebuah masa depan yang cerah. Menjual gagasan negara yang adil makmur, rakyat sejahtera. Ia tak pernah mengajak rakyatnya berandai-andai. Ia selalu mengajak bangsanya untuk mawas diri dan selalu siap siaga.
Tapi Indonesia tidak seperti Singapura. Indonesia juga negara yang pernah mengalami pertumbuhan ekonomi yang mencengangkan. Tapi setelah itu terjun bebas dan jatuh pingsan, mungkin koma. Beruntung tidak mengalami kematian. Setelah pertumbuhan ekonomi melaju pesat. Indonesia bisa swasembada beras. Tapi bangsa kita setelah itu tertidur lelap. Seolah esok akan tetap sama terbangun di negeri kaya zamrud khatulistiwa, ingin apa saja tersedia. Namun sungguh sial, negara yang disebut zamrud khatulistiwa ekonominya rontok tidak bersisa. Negara kaya tapi rakyatnya miskin. Bangsa kita khilaf untuk selalu siaga dan waspada. Jadilah kini kita miskin segalanya.
Belajarlah dari singapura. Tentang Lee Kuan Yew yang mengundurkan diri sebagai perdana mentri setalah dua puluh satu tahun berkuasa. Karena ia sadar kekuasaan tak akan selamanya. Maka disiapkanlah calon-calon pemimpin yang akan menggantikannya. Maka Lee pun menyediakan tempat dan melatih para pemimpin baru pada saat mereka muda, sebab Lee sadar bahwa ia dulu mampu menjadi perdana mentri sebelum usia empat puluh tahun. Sungguh usia yang sangat muda. Diindonesia, usia empat puluh tahun belum dipercaya bisa memimpin negara. Belum layak katanya. Jadilah kini negara kita tua renta. Jadi tak ada salahnya kan belajar dari singapura?.

Wednesday, May 30, 2007

KEJANTANAN DAN KEKSATRIAAN

Salah satu kebaikan pra islam yang diambil alih oleh kaum muslimin adalah muru’ah (kejantanan). Kejantanan didefiniskan dalam kamus-kamus arab klasik sebagai pemantangan terhadap hal-hal haram, kesucian dalam perilaku, dan penguasaan seni atau perdagangan; atau dalam menahan diri untuk tidak melakukan secara diam-diam apa yang akan menjadikan seseorang malu jika melakukannya secara terbuka; atau dalam kebiasaan melakukan apa yang diperbolehkan, dan dalam menghindari apa yang dianggap hina; atau dalam menjaga jiwa dari tindakan-tindakan kotor.

Para sufi memandang kejantanan sebagai salah satu kebajikan yang tertanam dalam jiwa ketika ia mewujudkan sifat-sifat aktif dari ruh. Dalam karyanya Khawaja’Abdullah Ansharu mengatakan pilar kejantanan ada tiga : hidup dengan diri sendiri dengan akal, dengan makhluk-makhluk dalam kesabaran, dan dengan Tuhan melalui kebutuhan.

Tanda hidup dengan diri sendiri dengan akal ada tiga : mengetahui ukuran diri sendiri, melihat dimensi-dimensi pekerjaan sendiri, dan berjuang demi kebaikan diri sendiri. Tanda hidup dengan makhluk-makhluk dalam kesabaran ada tiga: merasa puas dengan meraka ketika mereka kuat, membela mereka, dan berbuat untuk keuntungan mereka ketika kamu kuat. Tanda hidup dengan Tuhan melalui kebutuhan ada tiga : selalu bersyukur atas apapun yang datang dari-Nya, selalu memaafkan diri sendiri untuik apappun yang dilakukan demi Dia, dan menganggap pilihan-Nya adalah benar..

Sebagai suatu ciri watak, kejantanan terkait erat dengan futuwwah, yang menandakan kedermawanan, kebebasan, dan kemuliaan hati. Dan hal ini juga bisa diartikan sebagai ”kekstariaan”. Ia berasal dari kata fata yang berarti ”pria muda”. Keksatriaan merupakan sifat dan karakteristik yang melekat dalam sejarah islam. Contoh sempurna dari sifat kekesatriaan adalah ’Ali, saudara sepupu dan menantu Nabi, khalifah keempat dan pejuang terbesar dalam sejarah islam. Menurut beberapa sumber, setelah perang uhud, ketia ’Ali membuktikan keberaniaanya yang tiada tara, terdengar malaikat berseru ”Tidak ada pedang selain Dzu’l-Fiqar. Tidak ada fata kecuali ’Ali”.

Qusyairi mengemukakan sejumlah perkataan menyangkut keksatriaan. Akar dari keksatriaan adalah bahwa hamba itu terus menerus berjuang demi kepentingan orang lain. Keksatriaan adalah bahwa kamu tidak menganggap dirimu lebih unggul dibanding yang lain. Orang yang mempunyai sifat ksatria adalah orang yang tidak mempunyai musuh. Keksatriaan adalah bahwa kamu menjadi musuh dari jiwamu demi Tuhanmu. Kekstariaan adalah bahwa kamu bertindak secara adil tanpa menuntut keadilan bagi dirimu sendiri.

Thursday, May 10, 2007

MENANGIS

Lelaki itu menangis saat ia berjalan menaiki podium. Ia diminta memberikan sambutan seusai ia terpilih menjadi seorang pemimpin organisasinya. Dalam sambutannya ia mengucapkan dengan agak gemetar ”Saya pernah berjanji dalam hati saya, bahwa saya hanya akan menangis saat ibu saya meninggal. Tapi saat ini saya tidak tau kenapa saya menitikan air mata”.

Lelaki tersebut adalah kawan saya. Ia baru saja diberikan amanah sebagai ketua umum salah satu organisasi. Ia menangis bukan karena ia cengeng bak drama yang melankolis. Ia menangis karena ia menyadari bahwa menjadi pemimpin adalah amanah. Ia bukan hanya bertanggungjawab atas dirinya semata tapi aia juga mesti bertanggungjawab atas sekian kepala anggota-anggotanya.

Lelaki itu menangis. Sama seperti halnya saya yang juga pernah sama-sama diberikan amanah serupa. Kami menangis bukan karena kami cengeng, lelaki yang lemah atau tidak perkasa. Menangis adalah simbolisasi dari ketakutan dan kecemasan. Takut dan cemas tidak dapat menjalankan amanah dengan baik. Sebab segala sesuatu akan dimintakan pertanggungjawaban dihadapan Allah.

Sungguh, menitiknya air mata kawan saya dan juga saya adalah ekspresi jiwa yang sangat biasa. Meskipun dinegri kami lelaki tak boleh menitikan air mata. Cengeng katanya. Hanya perempuan yang boleh bersedih Tapi kami akan tetap menangis sebagai simbol ketakutan kepada Allah. Maka menangislah. Karena menangis itu indah.

Monday, February 26, 2007

MENSELEKSI KEHIDUPAN


Mungkin sebagian kita merasakan kehidupan yang kosong, hampa dan membosankan. Kosong bukan berarti tanpa aktifitas. Melainkan kehidupan ini terlalu penuh dan sesak dengan aktifitas. Hanya saja aktifitas kita kehilangan nilai kualitasnya. Barangkali kisah Anne Morrow Lindbergh,dalam Gift from the Sea dapat memberikan pelajaran kehidupan pada kita. Kisah ini merupakan serangkaian meditasi Lindbergh pada hari-hari liburnya di pantai suatu pulau. Ketika ia mengemasi barang-barangnya untuk meninggalkan pulau itu, Lindbergh bertanya kepada diri sendiri, apa yang ia peroleh dari semua upaya meditatifnya: “Jawaban atau solusi apakah yang telah saya temukan untuk kehidupan saya? Saya mendapat beberapa gelintir kerang dalam kantong, sedikit petunjuk, sedikit sekali.” Ia mengingat-ingat hari pertamanya di pulau itu, dan menyadari betapa rakusnya ia mengumpulkan kerang pada mulanya: “Kantong-kantong saya menggembung dengan kerang-kerang basah ... Di pantai ini terhampar kerang-kerang indah dan saya tidak membiarkan satu pun lolos dari perhatian saya. Saya bahkan tak bisa berjalan dengan kepala tegak seraya memandang lepas ke laut, karena khawatir akan melewatkan sesuatu yang amat berharga di kaki saya.” Masalahnya dengan cara pengumpulan kerang (atau berwawasan) ini adalah bahwa “naluri keserakahan itu tidak selaras dengan apresiasi sejati terhadap keindahan.” Namun setelah kantong-kantongnya mulur sampai batas peregangannya dengan kerang-kerang basah, ia mendapati perlunya kekurangserakahan: “Saya mulai membongkar barang-barang saya, untuk diseleksi.” Kemudian ia sadar bahwa mustahil menghimpun semua kerang indah yang ia lihat: “Kita bisa mengoleksi sedikit saja, dan yang sedikit tersebut lebih indah.” Bisakah kita mengasosiasikannya dengan wawasan filosofis? Barangkali bisa, karena Lindbergh sendiri menggeneralisasikan pelajaran yang ia peroleh dengan mengatakan “hanya dengan terbingkai dalam ruanglah keindahan itu mekar. Hanya dalam ruanglah peristiwa, obyek, dan manusia itu unik dan signifikan—dan karenanya indah.”

Bahwa keindahan membutuhkan ruang dan selektivitas, mendorong Lindbergh untuk mempertimbangkan kembali alasan-alasan mengapa kehidupannya di rumah cenderung kekurangan kualitas signifikansi dan keindahan, begitu pula yang ia alami di pulau itu. Barangkali kehidupan tampaknya tidak bermakna bukan karena kosong, melainkan karena terlalu penuh: “sedikit sekali ruang yang kosong. ... Terlalu banyak aktivitas yang berharga, hal yang bernilai, dan orang yang menarik. ... Kita bisa mempunyai ... kantong-kantong yang penuh sesak, yang di dalamnya terdapat satu atau dua hal yang akan signifikan.” Akan tetapi, berada di pulau itu memberi dia ruang dan waktu untuk melihat kehidupan dengan cara baru. Disini ada waktu; waktu untuk tenang; waktu untuk bekerja tanpa tekanan; waktu untuk berpikir ... waktu untuk melihat bintang ... bahkan, waktu untuk tidak berbicara.

Sunday, October 01, 2006

Keberkahan


Dalam dunia materialis seperti saat ini. Uang dianggap menjadi sesuatu yang paling dibutuhkan. Maka tak heran jika ada orang yang menganggap uang adalah segala-galanya. Dalam situasi semacam ini godaan materialisme tentu banyak menggelincirkan banyak orang. Banyak orang merasa selalu tidak cukup dengan harta yang dimiliki. Hingga akhirnya melakukan korupsi, mencuri, dan sebagainya.
Begitulah kini. Orang cenderung berfikir materialis. Semua serba dihitung matematis. Selalu merasa tidak cukup dengan uang seratus ribu, dua ratus ribu dan seterusnya. Memang, hidup di tengah kondisi yang sulit seperti ini materi menjadi sesuatu yang sangat penting. Namun, bukan berarti kita harus menjadi materialistis. Semua diukur dari nominalnya.
Cerita tentang kawan saya barangkali bisa menyadarkan kita semua. Kawan saya. Ia tidak memiliki gaji yang cukup dalam ukuran standar. Ia hanya bergaji 200 Ribu rupiah per bulan . Tapi ia memberanikan diri menikah setelah lulus kuliah. Padahal untuk ukuran materi, gaji 200 ribu belumlah cukup untuk biaya hidup. Tapi ia yakin dengan pilihannya. Ia mantap menikah!.
Kini, setahun sudah usia pernikahan kawan saya. Ia kini sudah memiliki rumah, motor dan satu orang buah hatinya. Sungguh, sesuatu yang sulit dihitung dengan logika. Tapi hidup bukan hanya bersandar pada logika tapi juga keimanan. Rezeki akan selalu datang dari tempat yang tak terduga meski penghasilan kita kecil. Namun dengan keimanan dan usaha yang sungguh-sungguh Allah telah memberikan keberkahan.
Keimanan inilah yang melahirkan keberkahan. Dalam situasi yang serba keterbatasan, keyakinan terhadap diri sendiri, kepada cita-citanya, keyakinan kepada Allah merupakan sebuah kekuatan yang mampu mengalahkan keterbatasan itu. Itulah yang disebut berkah. Inilah kuncinya! Semua mengalami pertumbuhan dan pertambahan melebihi nilai nominalnya. Berkah terjadi pada sesuatu yang sedikit namun menghasilkan banyak.
Oleh sebabnya Umar berkata kepada Amru Bin Ash dalam sebuah suratnya “ Tidak akan pernah sanggup mengalahkan orang-orang kafir dengan kecukupan sarana dan banyaknya jumlah tentara kita. Kita hanya dapat mengalahkan mereka karena kita beriman dan mereka kafir, karena kita bertakwa dan mereka bermaksiat.” .
Dengan keimanan dan ketakwaan inilah yang akan menjadikan kita memiliki kekayaan yang sesungguhnya. Meskipun nominalnya sedikit, namun menghasilkan banyak. Keimanan, keikhlasan, kejujuran, keberanian dan tawakal berpadu menjadi sebuah kekuatan. Inilah puncak spiritualitas. Hal inilah yang akan mampu memberikan keberkahan kepada kita. Keberkahan menjelaskan kepada kita suatu hukum bahwa sedikit bisa menghasilkan banyak.. Wallahu’alam.