<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395</id><updated>2012-01-16T20:20:03.855-08:00</updated><category term='Puisi'/><category term='Resonansi'/><category term='Artikel'/><category term='Cerpen'/><title type='text'>BAGASKARA MANJER KAWURYAN</title><subtitle type='html'>Pada tiap bulan akan ada sasadara manjer kawuryan Membuta mata seorang sudra mendekap pijarnya</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>21</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-8373689716340730475</id><published>2010-07-21T19:05:00.000-07:00</published><updated>2010-07-21T19:06:57.472-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>Hujan Sore Itu</title><content type='html'>&lt;span class=”fullpost”&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;sejak sore itu|sekelebat kau datang|lalu pergi|begitu tergesa|seperti mengejar pelanggan dibelahan bumi yang lain|atau kerinduan mu bukan di tanah yang ku pijak ini|malam ini|engkau sang hujan|mungkin kah memenuhi kerinduan ku|jika kau absen lagi|tak ada salah nya akan ku buat hujan sendiri|dari langit-langit mata ku&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-8373689716340730475?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/8373689716340730475/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=8373689716340730475&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/8373689716340730475'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/8373689716340730475'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2010/07/hujan-sore-itu.html' title='Hujan Sore Itu'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-5936418068268536431</id><published>2010-07-20T22:28:00.000-07:00</published><updated>2010-07-20T22:31:00.095-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>MARI ANAK KU</title><content type='html'>&lt;span class=”fullpost”&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Mari anak ku/mendekat lah/akan kubisikan/tentang kisah/tembang kehidupan/juga nasehat/belajar lah anak ku dari alam/berguru lah engkau pada kehidupan/karena kelak,saat engkau dewasa nanti/anak ku/mungkin ingin menikmati semesta raya/menjelajahi benua/saat itu/anak ku/kami/ibu dan ayah mu/tak mungkin menyertai mu/hanya bisa menatap dan berdoa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-5936418068268536431?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/5936418068268536431/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=5936418068268536431&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/5936418068268536431'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/5936418068268536431'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2010/07/mari-anak-ku.html' title='MARI ANAK KU'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-8675338308096704602</id><published>2010-07-19T22:25:00.000-07:00</published><updated>2010-07-19T22:26:52.876-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resonansi'/><title type='text'>SUDIKAH ENGKAU AYAH DONGENGI, NAK?[1]</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;Sudikah engkau ayah dongengi, nak? Ini tentang kisah yang lain. Bukan  tentang cerita upin ipin kesukaan mu yang selalu ayah dongeng kan itu  setiap malam menjelang engkau tidur. Lalu  engkau selalu minta lagi dan  lagi sampai ayah mu lelah dan tertidur. Sedang engkau masih terjaga,  terus merajuk meminta ayah mu ini sambil memegang boneka upin mu,  menirukan suara upin, ipin, ka ros dan opa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudikah engkau ayah dongengi, nak? Ini kisah kehidupan dan masa depan.  Mungkin akan ayah bumbui dengan cerita-cerita Mahabharata kesukaan ayah.  Engkau tidak keberatan kan, nak? Malam ini ayah ingin sekali cerita  tentang kehidupan orang dewasa. Meskipun kamu, anak ku, masih anak-anak  tapi suatu saat engkau akan dewasa. Cerita ini penting, anak ku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin ayah lihat di televisi ada ribut antar sesama anak bangsa.  Korban pun berjatuhan, nak. Sungguh mengerikan. Tidak kah kau melihat  itu di televisi? Ah, pasti kau tidak melihat nya, nak. Sebab engkau anak  ku hanya menonton, pagi hari Si Pororo, Sore Upin Ipin, sedang kan  malam kau meminta nonton Opera Van Java. Seharusny engkau, nak, sesekali  melihat berita, agar engkau tahu kondisi bangsa kita. Ada anggota dewan  kita saling menghujat bahkan hampir adu jotos. Kasus korupsi yang silih  berganti. Dan yang paling terbaru, nak, tentang ributnya warga tanjung  priok dengan Satpol PP. bahkan ada yang meninggal dalam kerusuhan ini.  ayah sedih, nak.apakah kamu juga ikut sedih?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin engkau bertanya anak ku “ siapa yang salah, yah. Satpol PP atau  Warga Tanjung Priuk”. Ayah tahu kamu akan bertanya seperti itu, anak ku.  Dan aku ayah mu pasti akan kebingungan menjawab pertanyaan itu. Tahu  kah engkau anak ku, Satpol PP juga adalah rakyat, mereka juga  menjalankan tugas dan pekerjaan. Mereka bekerja dan bertugas juga demi  keluarga mereka yang juga adalah rakyat, sama seperti kita. Dan warga  Tanjung Priuk juga adalah rakyat yang sedang mempertahankan hak nya,  mereka juga adalah rakyat yang harus dibela. Jika engkau bertanya, anak  ku, siapa yang salah diantara mereka. Ayah hanya bisa berkata entah lah  nak, jalan kehidupan begitu rumit, mana yang benar mana yang tidak  terlihat sangat samar-samar,bahkan orang yang paling bijaksana pun hanya  bisa menduga-duga.[bersambung]&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-8675338308096704602?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/8675338308096704602/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=8675338308096704602&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/8675338308096704602'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/8675338308096704602'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2010/07/sudikah-engkau-ayah-dongengi-nak1.html' title='SUDIKAH ENGKAU AYAH DONGENGI, NAK?[1]'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-4303949182448423064</id><published>2009-05-09T20:45:00.000-07:00</published><updated>2009-05-09T20:48:00.432-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>WAJAH BURUK KEKUASAAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;(Tulisan ini dimuat di Harian Fajar Banten, April 2009)&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;Dalam politik kita mengenal ungkapan klasik Lord Acton, Politic is a power, Power Tends To Corrupt, politik adalah kekuasaan dan kekuasaan itu cenderung korup. Ungkapan ini terasa sangat relevan terus dalam mengiringi kondisi social politik keindonesiaan. Atau juga seperti yang diungkapan Iwan Fals dalam sebuah lagunya “apakah selamanya politik itu kejam”. Tak ketinggalan juga obrolan-obrolan yang mungkin sering kita dengar dalam keseharian di masyarakat yang banyak mengatakan “sekarang para calon berkampanye dekat dengan masyarakat nanti juga setelah jadi lupa”. Benarkah politik dan kekuasaan itu seperti itu adanya yaitu, korup,kejam, dan sering lupa terhadap rakyatnya.&lt;br /&gt;Ungkapan-ungkapan bernada curiga dan skeptis masih terus membayangi ruang politik dan kekuasaan. Lalu pantaskah kekuasaan itu untuk selalu dicurigai ?. Tidak adakah maksud baik dan kejujuran dibalik kekuasaan?.&lt;br /&gt;Kini, kita telah melewati satu fase pemilu, yaitu pemilu legislative. Ada banyak janji yang bertebaran diseantero negri saat kampanye politik berlangsung menjelang pemilu legislatif kemarin. Mungkin sebagian masih ingat, mungkin juga sebagian telah lupa janji-janji para politisi. Atau bahkan para politisi sendiri juga telah lupa terhadap janji-janji mereka sendiri.&lt;br /&gt;Kita bersyukur pemilu relative berjalan lancar dan damai. Tak ada gejolak yang berarti setelah pemilu. Meskipun banyak kekurangan yang terjadi dan disertai protes disana sini oleh berbagai kalangan. Semoga semua ikhlas menerima hasil pemilu yang telah lewat itu. Meskipun pertanyaan-pertanyaan kecil masih bergelayut disanubari jutaan rakyat Indonesia : adakah perbaikan setelah pemilu ini? Adakah sembako tidak naik lagi? Adakah para pengangguran mendapat pekerjaan? Adakah kemiskinan bisa ditanggulangi?.&lt;br /&gt; Tak mudah menjawab semua pertanyaan-pertanyaan itu. Tidak semudah janji-janji yang pernah diucapkan saat kampanye kemarin. Begitu mudah kemarin para politisi berkata tentang kesejahteraan, tentang kemiskinan, tentang sembako murah, tentang pekerjaan, dan lain-lain.&lt;br /&gt;Padahal, saat pemilu tahun 2004 kemarin dan beberapa pilkada yang telah dilaksanakan masih menyisakan janji-janji yang belum terpenuhi. Janji serupa tentang kesejahteraan bertebaran namun janji kesejahteraan yang dulu juga tak juga kunjung tiba. Realisasi memang tidak semudah janji-janji yang diucapkan. Tapi mengapa saat berkampanye begitu mudah nya para politisi berjanji. Bukankah janji adalah hutang dan hutang harus dibayar?.&lt;br /&gt;Tak bisakah saat kampanye para politisi bicara dengan kejujuran dan keterbukaan kepada rakyat bahwa untuk mewujudkan kesejahteraan yang diinginkan tidaklah mudah dan membutuhkan kerja keras. Namun setelah itu dengan sungguh-sungguh berupaya mewujudkan harapan masyarakat tersebut. Tidak sebaliknya, janji diutamakan realisasi tergantung nanti.&lt;br /&gt;Mungkin setelah pemilu ini para politisi lupa terhadap janjinya. Sebab, setelah ini para politisi akan berkonsentrasi untuk pemilu presiden. Setelah pemilu presiden, datang lagi hiruk pikuk pilkada, dan seterusnya. Politisi kita hanya disibukan dari pemilu ke pemilu dan dari pilkada ke pilkada. Tugas utama sebagai anggota legislatif kerap diabaikan, apalagi untuk memperjuangkan dan mewujudkan janji-janji yang telah diucapkan saat kampanye dulu. Bahkan, seperti kemarin banyak politisi yang lebih mementingkan mempertahankan kekuasaan ketimbang menjalani tugas nya sebagai wakil rakyat. Mereka lebih asyik melakukan kampanye ketimbang menjalankan amanah rakyat yang masih tersisa itu.&lt;br /&gt;Begitulah sifat kekuasaan. Kekuasaan akan digunakan lagi untuk mempertahankan kekuasaan. Ibaratnya dikenyam sekali, ketagihan seterusnya. Maka tidak mengherankan jika banyak orang yang berebut dan berambisi mempertahankan kekuasaannya dengan sekuat tenaga dan dengan cara apapun.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Publik Yang “Terjaga”&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kekuasaan politik yang kita lihat selama ini. Seolah-olah politik tidak memiliki sisi baik dan niat luhur bagi para pelakunya. Padahal, proses politik sebagaimana proses proses yang dijalani manusia (ekonomi, sosial, keagamaan) merupakan sebuah hal yang tidak bisa dilepaskan pada keberadaan dan kondisi dari lingkungan dimana proses politik itu berjalan dan berkembang. Politik selalu saja didasari atau istilahnya dibatasi oleh kehendak kehendak atau nilai nilai moral dimana nilai itu dipercaya dan dipertahankan kelangsungannya oleh masyarakat itu sendiri. Politik itu juga pada finalnya atau pada tujuan idealnya merupakan sesuatu yang menjadi kehendak dari sebagian besar masyarakat. Mewujudkan masyarakan yang makmur, adil dan sejahtera, merupakan impian dari hampir semua proses politik yang ada dalam dunia manusia.&lt;br /&gt;Sesungguhnya begitu luhur dan agung tujuan dari kekuasaan politik, yaitu untuk mewujudkan masyarakat yang makmur,adil dan sejahtera. Namun realitasnya, suguhan yang disajikan oleh dunia politik dan kekuasaan selama ini terlanjur buruk. Sehingga, politik dan kekuasaan selalu dikonotasikan negatif, dicurigai, dan dianggap tidak pernah punya niat baik.&lt;br /&gt;Buruknya citra politik dan kekuasaan semestinya tidak menjadikan masyarakat apatis, alergi, dan muak. Rakyat boleh kecewa ataupun curiga terhadap politik dan kekuasaan. Karena  kekuasaan memang harus selalu diawasi dan dicurigai oleh rakyat. Inilah yang disebut sebagai “Publik Yang Terjaga”. Public yang terus terjaga ialah publik yang senantiasa kritis,curiga,dan selalu mengawasi terhadap persolan-persoalan kekuasaan dan politik tapi tidak apatis dan alergi terhadap politik dan kekuasaan. Public  yang terjaga adalah komunitas-komunitas cerdas dan tercerahkan. Ia adalah kumpulan warga yang sadar akan hak-hak politiknya. Ia berpartisipasi dalam politik tidak hanya saat pemilu atau pilkada. Ia terus berpartisipasi dalam setiap proses politik yang terjadi. Ia juga bukan warga yang menggantungkan perubahan lahir dari seorang pemimpin yang dipilihnya. Sebab, perubahan baginya adalah terlahir dari kesadaran kolektif dan kerja keras semua elemen anak bangsa.&lt;br /&gt;Hanya persoalannya, dari manakah kita memulai melahirkan komunitas-komunitas “public yang terjaga” ini. Sebab, komunitas seperti itu akan tumbuh dan lahir ketika rakyat telah mengalami penguatan secara sosial,ekonomi,dan juga politik.&lt;br /&gt;Rakyat tidak boleh terlalu berharap lebih perubahan akan cepat datang dari dunia politik dan kekuasaan. Sebab kekuasaan yang baik itu lahir dari kesadaran dan kebaikan kolektif masyarakat. Sejatinya, perubahan itu lahir dari sisi kultural. Ia adalah hasil pendidikan yang panjang –bahkan melelahkan- namun memiliki implikasi yang kuat untuk membangun kesadaran terhadap masyarakat. Kita dulu berharap peran edukasi itu dilakukan oleh partai politik, namun yang terjadi adalah hanya kampanye politik bahkan terjadi pembodohan politik yang tersistematis.&lt;br /&gt;Kita juga sesungguhnya berharap kepada ulama untuk senantiasa menjaga moral rakyat dan para penguasa. Sayangnya, sebagian dari mereka menjadi bagian dari kekuasaan. Mereka sibuk dengan dunia politik yang mereka geluti itu, bahkan mereka telah berubah menjadi kaum-kaum realis, kaum yang memahami bahwa politik dengan segala macam keburukannya adalah sesuatu yang realistis. Tak ada tempat lagi bagi idealisme. Karena baginya idealisme hanya penghambat jalan menuju kekuasaan.&lt;br /&gt;Kini, kita sangat membutuhkan gerakan-gerakan kultural bergeliat kembali. Membangkitkan kesadaran masyarakat yang telah mulai kehilangan harapan. Membangun kembali kesadaran bahwa  perubahan itu tidak akan jatuh dari langit atau diberikan oleh para penguasa secara cuma-cuma dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya. Gerakan kultural ini gerakan yang mampu mengembalikan kepercayaan diri rakyat terhadap kemampuannya sendiri, mengembalikan semangat dan idealisme yang saat ini cenderung hilang. Yaitu, gerakan kultural yang mampu melahirkan pribadi-pribadi yang bersandarkan pada ketuhanan, membangkitkan etos kerja, kedisiplinan, dan kejujuran. Dan saya ragu peran seperti ini akan bisa dilakukan oleh gerakan struktural semacam partai politik an sih. Dan tentu saja peran ini harus dimainkan oleh organisasi-organisasi, tokoh-tokoh, dan seluruh kalangan yang bergerak diwilayah kultural, suatu wilayah yang jauh dari ambisi kekuasaan serta materi dan hanya benar-benar bertujuan untuk mendidik dan membina masyarakat.Wallahu’alam.&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-4303949182448423064?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/4303949182448423064/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=4303949182448423064&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/4303949182448423064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/4303949182448423064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2009/05/wajah-buruk-kekuasaan.html' title='WAJAH BURUK KEKUASAAN'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-957912865212993625</id><published>2009-04-09T19:33:00.000-07:00</published><updated>2009-04-09T19:36:47.866-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>DILEMA DEMOKRASI KITA</title><content type='html'>&lt;span class="”fullpost”"&gt;&lt;div align="justify"&gt;(Tulisan ini dimuat di Harian Fajar Banten, Januari 2009)&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Penganjur demokrasi percaya bahwa demokrasi adalah system terbaik didunia ini. Begitupun dengan kalangan yang pernah merasakan system otoritarianisme, demokrasi adalah surganya kebebasan. Ekspresi politik dari spectrum manapun tak bisa dihalang-halangi. Yang dahulu dilarang kini semua bebas bersuara lantang, bahkan berteriak sampai serak sekalipun. Tapi demokrasi yang dianggap sebagai surga ini bisa menjadi neraka yang bisa membakar penghuninya. Demokrasi yang awalnya membahagiakan, semakin lama menunjukan wajah yang meyeramkan dan menakutkan. Demokrasi bak monster yang setiap saat siap menelan siapa saja yang tak siap mengikuti irama demokrasi saat ini.&lt;br /&gt;Demokrasi yang kita harapkan mewarnai perjalanan social politik keindonesiaan masa kini adalah demokrasi substansial. Demokrasi yang memberikan kebebasan namun penuh tanggung jawab, demokrasi yang mencerdaskan rakyatnya, demokrasi yang menjadikan para politisi menjadi negarawan, dan yang lebih penting adalah demokrasi yang mampu mensejahterakan rakyatnya.&lt;br /&gt; Namun sejak lahirnya demokrasi di negri ini, demokrasi baru berjalan sebatas procedural. Demokrasi yang hadir hanya hiruk pikuk dari pemilu ke pemilu dan dari pilkada ke pilkada. Sementara, dari pesta politik (pemilu) itu tak juga memberikan titik terang perbaikan, malah harapan perbaikan itu semakin hari semakin tenggelam ditelan hiruk pikuk perebutan kekuasaan para elit dan pemilik modal.&lt;br /&gt;Pemilu dan pilkada yang diharapkan menjadi sarana untuk memilih pemimpin yang mampu memberikan harapan perubahan dari waktu ke waktu semakin membosankan. Rakyat mulai bosan, memilih tapi tidak membawa perubahan. Rakyat mulai jengah, memilih tapi janji politik tidak pernah direalisasikan.&lt;br /&gt;Hiruk pikuk politik kita menjadi gila. Partai tidak lagi menjadi sarana rekrutmen politik calon-calon pemimpin yang memiliki kredibilitas moral dan kompetensi. Partai terhegemoni para pemilik modal (kapitalis) dalam menentukan siapakah yang akan dicalonkan menjadi Bupati, Walikota, Gubernur, Presiden, dan Anggota Legislatif.&lt;br /&gt;Akhirnya, kini rakyat pun ikut menjadi ‘gila’, siap memilih asal ada sembako, kaos, duit, dan logistic lainnya. Perilaku ini muncul karena diajarkan oleh para pemimpin nya yang merupakan produk dari partai politik. Padahal semestinya, peran partai politik itu mencerdaskan bukan melakukan pembodohan politik. Berat rasanya berharap perubahan itu dari partai politik. Dunia politik adalah dunia abu-abu, percampuran antara idealisme dan pragmatisme. Bahkan kini semakin teridentifikasi hampir semua partai politik mengidap penyakit pragmatisme ini.&lt;br /&gt;Mungkin menyebut hampir semua partai teridentifikasi virus pragmatisme ada yang menganggap berlebihan. Namun, anggapan ini muncul karena rakyat selalu disuguhi dagelan politik yang membingungkan. Besok mengkritik, besoknya lagi memberi dukungan. Kemarin tidak setuju terhadap suatu kebijakan, sekarang menyatakan setuju. Kata orang politik “inilah politik, tak ada kawan dan lawan abadi”. Tak salah memang, tapi rakyat dibuat bingung, padahal rakyat membutuhkan konsistensi dalam bersikap dari para pemimpin nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi Pasar&lt;br /&gt;Demokrasi kita kini tak ubahnya seperti system ekonomi pasar. Pemerintah atau institusi memiliki peran yang kecil, bahkan terhegemoni oleh para pemilik modal (pelaku pasar). Partai politik pun kini tak ubahnya ibarat produk yang bebas diperjualbelikan oleh siapa saja. Ideology yang melekat pun mengalami deficit secara perlahan. Ideology atau identitas yang dimiliki partai tak lagi penting untuk dilanjutkan. Yang penting dalam pemilu atau pilkada bisa menang, meskipun calon pemimpin maupun calon wakil rakyat yang diusung dari latar belakang apapun. Partai politik saat ini menjajakan secara bebas untuk mengahantarkan seseorang menjadi pemimpin atau wakil rakyat. Siapa saja boleh mengajukan diri lewat partai. Artis ataupun petualang politik silahkan saja, yang penting punya uang dan popularitas, tak peduli masalah kompetensi dan kredibilitas.&lt;br /&gt;Fenomena inilah yang disebut oleh saudara Fitron Nurikhsan dalam tulisannya di Fajar Banten (16/10/2008) sebagai Era Individual. Factor partai tak lagi menjadi penting. Ia tergerus oleh arus kompetisi demokrasi pasar yang membuat partai telah terhegemoni oleh individu-individu yang dapat memenuhi selera pasar. Dalam system demokrasi seperti ini, uang dan popularitas menjadi raja. Sebab, system politik kita sangat berbiaya tinggi (high cost), karena untuk kampanye, partai butuh logistik untuk memasarkan calon dari partai tersebut. Selain logistik untuk kampanye, partai atau calon pemimpin juga kerap mengalokasikan dana untuk sekedar tanda jadi dengan para pemilih berupa uang, sembako, kerudung, dan yang lainnya. Jadilah politik kita menjadi Politic Transaksional.&lt;br /&gt;Pemilu 2009 nanti juga akan menjadi pertarungan individu-individu. Apalagi sistem politik kita sekarang ini mengalami perubahan dari semi terbuka menjadi terbuka murni setelah Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan untuk menetapkan perolehan kursi berdasarkan suara terbanyak. Nomor urut tidak lagi menjadi patokan.&lt;br /&gt;Masyarakat  yang memilih karena faktor partai akan berkurang. Uang, popularitas, kekerabatan, dan faktor keluarga akan menjadi trend perilaku pemilih dalam menentukan pilihannya pada pemilu 2009 nanti. Lihatlah caleg-caleg yang bermunculan, dari kalangan artis, pengusaha, dan tokoh-tokoh lokal. Meskipun secara pengalaman politik, kompetensi kedewanan, dan skill kepemimpinan sangat minim. Namun, caleg yang seperti itu sangat potensial menyumbang suara yang signifikan bagi partai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jalan Sosial&lt;br /&gt;Ada sebagian kalangan melihat fakta demokrasi yang tumbuh begitu karut marut ini menginginkan kembali kepada sistem lama. Lebih tenang dan aman katanya. Tapi untuk kembali kepada sistem masa lalu tentu saja bukan suatu kemajuan. Kita saat ini hanya perlu berhenti sejenak untuk merenungi sejauh mana perjalanan keindonesiaan kita. Era transisi dari otoritarianisme menuju demokratisasi memang memiliki dua sisi, sisi baik dan sisi buruk.&lt;br /&gt;Kita mungkin pesimis terhadap politik serta institusi-intitusi politik yang ada untuk bisa mewujudkan perubahan. Tapi, kita harus tetap optimis menatap masa depan. Sejatinya perubahan bisa dilakukan lewat jalan lain, yaitu jalan sosial. Sejatinya, perubahan yang sukses, transisi menuju demokrasi yang berhasil, adalah perubahan yang berbasiskan publik. Untuk itu yang dapat ditempuh adalah jalan sosial, yaitu memperkuat gerakan-gerakan sosial guna membangun dan terus menguatkan publik. Yakni, dengan cara membangun dan menguatkan segmen-segman masyarakat yang tahu benar hak-hak mereka dan berjuang secara pro aktif untuk membuat hak-hak itu tegak serta melawan atas pelanggaran atas hak mereka.&lt;br /&gt;Menurut Eep Saefulloh Fatah dalam buku nya Membangun Indonesia Dengan Amal , jalan sosial bisa dilakukan dengan beragam cara. Bisa sendirian : setiap orang menjadikan dirinya sebagai bagian dari “publik yang terus terjaga”. Bisa lewat penguatan organisasi-organisasi komunitas, karena organisasi merupakan modal sosial bagi demokrasi. Bisa melalui cara-cara institusional, melalui demokratisasi institusi-institusi pendidikan misalnya. Dan tentu saja bisa melalui penguatan gerakan dan jaringan publik. Wallahu’alam.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-957912865212993625?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/957912865212993625'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/957912865212993625'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2009/04/dilema-demokrasi-kita.html' title='DILEMA DEMOKRASI KITA'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-2279343725531102857</id><published>2008-10-16T22:44:00.000-07:00</published><updated>2008-10-16T22:47:47.672-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>PEMIMPIN ATAU KARAKTER SOSIAL BARU?</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;(Tulisan ini dimuat di Harian Fajar Banten 22/09/2008)&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;span class="”fullpost”"&gt;&lt;span style="font-family:lucida grande;"&gt;Merenungkan keadaan dan kondisi bangsa memerlukan sistem berfikir yang sistemik. Tak mudah memang mengidentifikasi persoalan kebangsaan yang karut marut ini. Antar masalah satu dan yang lainnya saling berkaitan satu sama lain. Sejak krisis ekonomi dan moneter satu dasawarsa silam, bangsa Indonesia belum berhasil lepas dari jerat masalah yang kini menjadi benang kusut krisis nasional multidimensional. Krisis ekonomi, politik, moral, dan budaya menjadi lebih mendalam. Perubahan yang sangat cepat, tatanan demokrasi yang belum mantap, arus globalisasi yang diawali dengan perkembangan teknologi informasi dan komunikasi yang sangat pesat, program pemulihan krisis yang belum tuntas diikuti pergantian pemimpin yang relatif cepat. Sementara tuntutan demokrasi, otonomi daerah dan kebebasan pers membuat pengelolaan negara tidak semudah yang dibayangkan. Sementara tingkat pendapatan dan pendidikan masyarakat masih tergolong sangat rendah.&lt;br /&gt;Persoalan-persoalan diatas adalah pekerjaan berat bagi pemimpin yang akan lahir pada pemilu 2009 nanti. Situasi serba pelik ini, ditambah pula dengan kondisi psikologis rakyat yang tengah diserang penyakit putus asa (despair) dan rasa cemas (anxiety) diakibatkan ketidakpastian rakyat akan masa depan mereka disebabkan krisis yang tak henti-hentinya menerpa. Sedangkan  para pemimpin, lembaga politik, dan elit-elit politik semakin menunjukan perilaku yang tidak memberikan titik cerah dan semakin memburamkan masa depan.&lt;br /&gt;Menjelang pemilu 2009, partai politik , para calon anggota legislatif, dan kandidat presiden, kembali menjajakan perubahan kepada rakyat. Ada kandidat yang masuk kategori tua ada juga yang mengaku dari kalangan kaum muda. Yang tua merasa memiliki pengalaman untuk memimpin bangsa, sedangkan yang muda merasa saatnya pemimpin baru dan muda yang menjadi pemimpin bangsa karena pemimpin tua dianggap gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Pemimpin&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Penjelasan yang paling sederhana dan bisa dinalar dengan mudah adalah adagium bahwa “pemimpin adalah produk masyarakatnya”. Pemimpin nasional adalah cermin dari masyarakat Indonesia secara keseluruhan. Perlakuan rakyat terhadap pemimpinnya adalah refleksi sikap budaya itu.&lt;br /&gt;Kita sungguh cukup prihatin dengan realitas politik dewasa ini. Apatisme politik masyarakat berubah menjadi pragmatisme yang akut. Dalam memilih pemimpin nasional maupun daerah, transaksi politik lebih dominant ketimbang nilai-nilai substantive kepemimpinan. Realitas seperti ini muncul disebabkan selama ini para pemimpin, elit politik, dan partai politik tak  pernah membuktikan janji politik setelah terpilih.&lt;br /&gt;Oleh karenanya pemimpin yang akan lahir pada pemilu 2009 nanti tidak lepas dari budaya dan karakter kejiwaan yang kini dianut mayoritas  rakyatnya. Jika rakyat nya masih memiliki karakter-karekter korup, maka pemimpin yang dihasilkan tidak akan jauh dari itu. Pemimpin baru dengan semangat dan karakter baru yang progresif yang kita harapkan akan mampu membawa perubahan, mungkin hanya akan jadi mimpi.&lt;br /&gt;Tentu kita prihatin, ditengah harapan sebagian besar rakyat untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik setelah memiliki pemimpin hasil dari pemilu. Di sisi lain, rakyat semakin pragmatis dan apolitis. Transaksi dengan pendekatan pragmatis lebih dipilih oleh sebagian besar masyarakat, ketimbang benar-benar melihat partai atau kandidat yang benar-benar tulus untuk memperjuangkan rakyat. Perilaku seperti ini muncul akibat ketidakmampuan para partai politik, elit politik, dan para pemimpin yang selama ini telah diberi kepercayaan oleh rakyat dalam memenuhi harapan public. Sebagian besar rakyat juga saat ini tidak lagi percaya terhadap pilkada atau pemilu untuk menyelesaikan krisis dan mampu memenuhi harapan-harapan rakyat.&lt;br /&gt;Jadi, pemimpin tua atau pun pemimpin muda yang akan memimpin bangsa ini tentu akan sangat berbanding lurus dengan karakter umum pemilihnya yang saat ini cenderung pragmatis, kehilangan nurani, deficit kejujuran, mudah dibeli, dan bermental korup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Ratu Adil&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Lantas, apakah harapan rakyat untuk mendapatkan pemimpin yang berkualitas yang akan mampu menyelesaikan krisis tidak akan kita dapatkan pada pemilu 2009 nanti?. Mungkin kita,  dan sebagian besar rakyat sedang menanti pemimpin besar itu. Bahkan kita cenderung mengharapkan pemimpin yang serupa dengan Supermen atau Ratu Adil yang mampu menyelesaikan krisis secepat kilat.&lt;br /&gt;George McTurnen Kahin, pernah mengingatkan, bahwa tak tergantung pada diri sendiri dan senang meminta orang lain –orang besar atau pemimpin- untuk menyelesaikan perkara kita, merupakan penyakit jiwa yang diderita bangsa ini. Ketika disergap krisis dan kesulitan, orang Indonesia sangat mudah untuk mencari “pegangan ke atas”. Semakin rumit masalah yang dihadapi, maka semakin besar kecenderungan untuk menunggu datang nya orang besar, messiah, ratu adil, penyelesai segala perkara.&lt;br /&gt;Ketika mitos ”Ratu Adil” (messianism) masih mengontrol alam bawah sadar budaya masyarakat kita dalam memilih pemimpin, maka pemimpin dipaksa menjadi “setengah dewa” yang tercerabut dari bingkai kemanusiaannya. Atas nama kharisma, harapan setinggi langit disandangkan kepadanya. Maka, siapa menabur harapan akan menuai kecewa. Itulah yang terjadi, ketika aspek kemanusiaan dari seorang pemimpin muncul saat rakyat terbangun dari mimpi, bersama kesadaran kehidupan ekonomi dan politik harian yang tak kunjung sesuai harapan. Kesadaran itu umumnya datang terlambat. Sang pemimpin sudah terlanjur jauh melenceng, dan kenyataan sudah semakin jauh dari harapan. Borok  pemimpin sudah menjadi nanah yang menjijikan. Ratu Adil sudah berubah menjadi “Buto Ijo”, yang caci-maki dan sumpah-serapah pantas dilontarkan kepadanya.&lt;br /&gt;Oleh karenanya, yang kita butuhkan kedepan menurut Alvin Toffler adalah bukanlah terciptanya seorang superman yang ideal, suatu spesies pahlawan baru yang melangkah ditengah-tengah kita, akan tetapi adalah suatu perubahan yang dramatis di dalam unsur tabiat yang terdapat secara meluas pada masyarakat- bukan manusia baru, tetapi suatu karakter social yang baru. Oleh karena itu, tugas kita bukanlah mencari “manusia” legendaris itu, akan tetapi mencari unsur tabiat yang kiranya akan disanjung oleh peradaban hari esok.&lt;br /&gt;Lalu karakter social apa yang mesti dimiliki oleh pemimpin dan rakyat Indonesia kedepan?. Karakter social yang baru itu mungkin bukanlah hal-hal baru, bisa jadi ia adalah karakter yang sesungguhnya sudah melekat pada manusia Indonesia, namun saat ini tertutupi oleh karakter-karakter negative yang berkembang pada kejiwaan manusia Indonesia.&lt;br /&gt;Jadi, Indonesia kedepan adalah Indonesia yang bukan hanya dipimpin oleh pemimpin baru. Pemimpin baru hanyalah sebuah celah dari mana secercah kecil cahaya dari luar bisa menerabas masuk ke dalam ruangan kita yang gelap. Akan  tetapi yang kita harapkan dan yang mesti kita bangun adalah lebih dari itu yaitu terciptanya suatu karakter social yang baru yang dijiwai dan menjadi karakter social masyarakat Indonesia. Karakter itu adalah cinta Tuhan, jujur, disiplin, peka social, pekerja keras, bertanggungjawab, dan anti korupsi.&lt;br /&gt;Tak akan pernah ada perubahan dan demokrasi yang dihadiahkan oleh pemimpin. Tak ada masa depan yang dibangunkan oleh pemimpin, sebesar apa pun ia. Kita lah yang mesti membangun masa depan itu. Demokrasi dan perubahan selalu merupakan hasil pertarungan yang melibatkan keringat kita sendiri.&lt;br /&gt;Oleh karena nya, tanpa pembangunan karakter sosial, barangkali kita akan tetap kesulitan mendapatkan pemimpin Indonesia yang memiliki kapabilitas (kompetensi) dan memiliki kredibilitas moral. Itulah mengapa masa depan Indonesia laksana lorong panjang yang menganga tanpa jelas menuju ke mana. Wallahu’alam&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-2279343725531102857?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/2279343725531102857/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=2279343725531102857&amp;isPopup=true' title='1 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/2279343725531102857'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/2279343725531102857'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2008/10/pemimpin-atau-karakter-sosial-baru.html' title='PEMIMPIN ATAU KARAKTER SOSIAL BARU?'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-5878686805455434968</id><published>2008-09-09T06:08:00.000-07:00</published><updated>2008-09-09T06:11:32.398-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resonansi'/><title type='text'>SERGAPAN RASA MEMILIKI</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;.milik nggendhong lali..&lt;br /&gt;rasa memiliki membawa kelalaian&lt;br /&gt;-peribahasa Jawa-&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); background: transparent none repeat scroll 0% 50%; cursor: pointer; -moz-background-clip: -moz-initial; -moz-background-origin: -moz-initial; -moz-background-inline-policy: -moz-initial;" class="yshortcuts" id="lw_1220965635_0"&gt;Salman Al Farisi&lt;/span&gt; memang sudah waktunya menikah. Seorang wanita Anshar yang dikenalnya sebagai wanita mukminah lagi shalihah juga telah mengambil tempat di hatinya. Tentu saja bukan sebagai kekasih. Tetapi sebagai sebuah pilihan dan pilahan yang dirasa tepat. Pilihan menurut akal sehat. Dan pilahan menurut perasaan yang halus, juga ruh yang suci.&lt;br /&gt;Tapi bagaimanapun, ia merasa asing di sini. &lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1220965635_1"&gt;Madinah&lt;/span&gt; bukanlah tempat kelahirannya. Madinah bukanlah tempatnya tumbuh dewasa. Madinah memiliki adat, rasa bahasa, dan rupa-rupa yang belum begitu dikenalnya. Ia berfikir, melamar seorang gadis pribumi tentu menjadi sebuah urusan yang pelik bagi seorang pendatang. Harus ada seorang yang akrab dengan tradisi Madinah berbicara untuknya dalam khithbah. Maka disampaikannyalah gelegak hati itu kepada shahabat Anshar yang dipersaudarakan dengannya, Abud Darda’.&lt;br /&gt;”Subhanallaah. . wal hamdulillaah. .”, girang Abud Darda’ mendengarnya. Mereka tersenyum bahagia dan berpelukan. Maka setelah persiapan dirasa cukup, beriringanlah kedua shahabat itu menuju sebuah rumah di penjuru tengah kota Madinah. Rumah dari seorang wanita yang shalihah lagi bertaqwa.&lt;br /&gt;”Saya adalah Abud Darda’, dan ini adalah saudara saya Salman seorang Persia. Allah telah memuliakannya dengan Islam dan dia juga telah memuliakan Islam dengan amal dan jihadnya. Dia memiliki kedudukan yang utama di sisi Rasulullah Shallallaahu ’Alaihi wa Sallam, sampai-sampai beliau menyebutnya sebagai ahli bait-nya. Saya datang untuk mewakili saudara saya ini melamar putri Anda untuk dipersuntingnya.”, fasih Abud Darda’ bicara dalam logat Bani Najjar yang paling murni.&lt;br /&gt;”Adalah kehormatan bagi kami”, ucap tuan rumah, ”Menerima Anda berdua, shahabat Rasulullah yang mulia. Dan adalah kehormatan bagi keluarga ini bermenantukan seorang shahabat Rasulullah yang utama. Akan tetapi hak jawab ini sepenuhnya saya serahkan pada puteri kami.” Tuan rumah memberi isyarat ke arah hijab yang di belakangnya sang puteri menanti dengan segala debar hati.&lt;br /&gt;”Maafkan kami atas keterusterangan ini”, kata suara lembut itu. Ternyata sang ibu yang bicara mewakili puterinya. ”Tetapi karena Anda berdua yang datang, maka dengan mengharap ridha Allah saya menjawab bahwa puteri kami menolak pinangan Salman. Namun jika Abud Darda’ kemudian juga memiliki urusan yang sama, maka puteri kami telah menyiapkan jawaban mengiyakan.”&lt;br /&gt;Jelas sudah. Keterusterangan yang mengejutkan, ironis, sekaligus indah. Sang puteri lebih tertarik kepada pengantar daripada pelamarnya! Itu mengejutkan dan ironis. Tapi saya juga mengatakan indah karena satu alasan; reaksi Salman. Bayangkan sebuah perasaan, di mana cinta dan persaudaraan bergejolak berebut tempat dalam hati. Bayangkan sebentuk malu yang membuncah dan bertemu dengan gelombang kesadaran; bahwa dia memang belum punya hak apapun atas orang yang dicintainya. Mari kita dengar ia bicara.&lt;br /&gt;”&lt;span style="border-bottom: 1px dashed rgb(0, 102, 204); cursor: pointer;" class="yshortcuts" id="lw_1220965635_2"&gt;Allahu Akbar&lt;/span&gt;!”, seru Salman, ”Semua mahar dan nafkah yang kupersiapkan ini akan aku serahkan pada Abud Darda’, dan aku akan menjadi saksi pernikahan kalian!”&lt;br /&gt;♥♥♥&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cinta tak harus memiliki. Dan sejatinya kita memang tak pernah memiliki apapun dalam kehidupan ini. Salman mengajarkan kita untuk meraih kesadaran tinggi itu di tengah perasaan yang berkecamuk rumit; malu, kecewa, sedih, merasa salah memilih pengantar –untuk tidak mengatakan ’merasa dikhianati’-, merasa berada di tempat yang keliru, di negeri yang salah, dan seterusnya. Ini tak mudah. Dan kita yang sering merasa memiliki orang yang kita cintai, mari belajar pada Salman. Tentang sebuah kesadaran yang kadang harus kita munculkan dalam situasi yang tak mudah.&lt;br /&gt;Sergapan rasa memiliki terkadang sangat memabukkan..&lt;br /&gt;Rasa memiliki seringkali membawa kelalaian. Kata orang Jawa, ”Milik nggendhong lali”. Maka menjadi seorang manusia yang hakikatnya hamba adalah belajar untuk menikmati sesuatu yang bukan milik kita, sekaligus mempertahankan kesadaran bahwa kita hanya dipinjami. Inilah sulitnya. Tak seperti seorang tukang parkir yang hanya dititipi, kita diberi bekal oleh Allah untuk mengayakan nilai guna karuniaNya. Maka rasa memiliki kadang menjadi sulit ditepis..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Source: buku baru Salim A. Fillah : Jalan Cinta Para Pejuang/Gairah/ Sergapan Rasa Memiliki, by Pro-U Media 2008&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-5878686805455434968?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/5878686805455434968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=5878686805455434968&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/5878686805455434968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/5878686805455434968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2008/09/sergapan-rasa-memiliki.html' title='SERGAPAN RASA MEMILIKI'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-1159671872885543805</id><published>2008-08-06T19:00:00.000-07:00</published><updated>2008-08-06T19:01:47.993-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>SEWINDU MENANTI</title><content type='html'>&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sewindu lebih kami menanti&lt;br /&gt;Apa yang Tuan janjikan dulu&lt;br /&gt;Saat kami berkumpul dipelataran kantor desa&lt;br /&gt;Dengan gagahnya Tuan berkata-kata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewindu lebih kami menanti&lt;br /&gt;Lelah rasanya jiwa raga kami&lt;br /&gt;Bahkan engkau tak pernah mengunjungi gubuk kami&lt;br /&gt;Atau sekedar menyapa kami&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewindu lebih kami menanti&lt;br /&gt;Janji-janji Tuan tak pernah ditepati&lt;br /&gt;Kini Tuan datang lagi&lt;br /&gt;Dengan membawa beribu-ribu janji&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sewindu lebih kami menanti&lt;br /&gt;Maaf Tuan kami tak akan mencoblos lagi&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-1159671872885543805?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/1159671872885543805/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=1159671872885543805&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/1159671872885543805'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/1159671872885543805'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2008/08/sewindu-menanti.html' title='SEWINDU MENANTI'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-1219475051729990478</id><published>2008-06-06T18:33:00.000-07:00</published><updated>2008-07-15T18:13:12.457-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>KECEMASAN DI HARI KEBANGKITAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Mei ini kebangkitan nasional memasuki usia satu abad, sekaligus juga bertepatan dengan peringatan reformasi yang memasuki &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;satu dasawarsa. Dua momentum penting ini beriringan dibulan Mei ini. Dua momentum ini diharapkan menjadi &lt;i&gt;tonggak&lt;/i&gt; untuk mengembalikan harapan kebangkitan bangsa ini. Namun kebangkitan menjadi makna yang paradoks jika kita dihadapkan pada kenyataan yang terjadi dimasyarakat. &lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Momen kebangkitan semestinya menjadi sarana untuk menghadirkan kebangkitan dalam jiwa rakyat dengan membangun harapan dan kepastian akan masa depan. Namun , hari kebangkitan malah menjadi momen kecemasan rakyat atas nasib dan masa depan mereka dalam menjalani kehidupan ini. Ditengah keterpurukan di berbagai sektor dan daya beli masyarakat yang semakin rendah, pemerintah malah&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;membuat kebijakan menaikan harga BBM. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Masyarakat kini telah terjangkit penyakit rasa cemas (&lt;i&gt;anxiety&lt;/i&gt;) dan putus asa (&lt;i&gt;despair&lt;/i&gt;). Kecemasan bermula dari ketidakpuasan terhadap situasi yang sedang berlangsung, dan kekhawatiran menyongsong masa depan yang serba tak pasti. Krisis dan tekanan yang silih berganti memburamkan pandangan, dan mengubur harapan yang tersisa. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Para buruh masih merasa cemas akibat kebijakan UMR yang tak kunjung naik, dan sistem kontrak serta kebijakan outsourcing yang sangat merugikan para buruh. Para petani tak lagi menikmati panen raya karena harga gabah tak kunjung manusiawi. Masyarakat lainnya di liputi rasa cemas akibat kenaikan harga-harga yang tiap hari terus menerus merangkak naik. Situasi ini serba tak terkendali dan semakin memburamkan masa depan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kebangkitan nasional dan reformasi seolah seolah hanya menjadi eforia pesta tanpa makna. Sebagian merayakannya dengan berdiskusi, melakukan kirab budaya, konser musik, sebagiannya lagi dengan berdemonstrasi. Namun, ia tak juga mengembalikan harapan yang belakangan ini sedang kembang kempis. Kecemasan dan putus asa kini telah menjangkit diulu hati sebagian besar rakyat negeri ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Baca atau lihatlah di media kita, berapa banyak orang yang memilih untuk mengakhiri hidupnya sendiri karena mengalami putus asa dalam kehidupan. Mereka tak lagi kuat menanggung beban hidup yang kian menghimpit. Ada pedagang gorengan di Pandeglang, Banten yang akhirnya mengakhiri hidupnya karena pendapatannya tak juga kunjung naik dari menjual gorengan, sedangkan harga-harga kebutuhan pokok terus merangkak naik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Atau juga kisah Teguh, seorang anak SD yang akhirnya memilih bunuh diri, sebab ia mesti menahan lapar tiap hari. Sampai akhirnya sakit yang datang terus-menerus membuat Teguh putus asa. Ia memutuskan mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di rumah neneknya yang sepi dan dingin. Tidak ada secarik kertas, tidak ada pesan pendek lewat ponsel, tidak ada ucapan selamat tinggal. Teguh tidak meninggalkan catatan kepada para perumus kebijakan di negeri kita ini dan juga tidak mengirim pesan kepada para elite yang sedang bertempur memperebutkan kekuasaan. Tetapi Teguh telah memberikan simbol protes yang amat kuat kepada kita semua yang lupa terhadap nasib seorang anak miskin seperti dia. Teguh telah menjadi wakil bagi jutaan anak seperti dia. Anak-anak yang bisa saja frustrasi dan putus asa dan kemudian mengambil jalan pintas seperti dia.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Ironisnya, para elit pemimpin negeri ini tak kunjung sadar dengan situasi serba pelik ini. Sejatinya mereka memberikan perhatian penuh kepada rakyat yang saat ini merasakan kecemasan yang mendalam, namun mereka masih menyibukan dirinya pada konflik internal partai dan persiapan pemilu 2009.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Seolah-olah pekerjaan utama para pemimpin dan elit negeri ini bukan untuk mengabdikan dirinya untuk kepentingan rakyat, melainkan menjauh dari rakyat. Jika rakyat ada didesa, mereka lari menjauh ke kota. Jika rakyat ke kota, mereka akan menjauh ke dalam ruangan. Jika rakyat kelaparan, mereka sibuk kekenyangan. Jika rakyat menangis karena harga-harga merangkak naik, mereka tertawa sambil naik mobil keluaran terbaru.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Permasalahan &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kita sebagai suatu bangsa mengidap permasalahan–permasalahan yang begitu berat, baik secara individu maupun kolektif. Budayawan Koentjaraningrat menyebut kita mengidap budaya “menerabas”, budaya&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;potong-kompas, budaya &lt;i&gt;miopis &lt;/i&gt;(rabun dekat). Ingin cepat sukses, kaya, atau berkuasa dengan usaha sedikit, dan kalau perlu tabrak aturan. Tak mampu melihat masa depan yang jauh, paling banter melihat dalam periode “lima tahunan”. Budaya “menanam jagung” yang tiga bulanan, ketimbang budaya “menanam jati” yang harus menunggu puluhan tahun. Budaya “jalur cepat” menuju sasaran, kalau perlu melangkahi kepala orang. Budaya selebritis instan yang ingin populer dalam sekejap. Atau, budaya “satu hari untung beliung”. Penyakit kronis yang kita idap adalah kurang menghargai mutu, memburu rente dalam ekonomi, politik uang dalam kekuasaan, gelar palsu dalam pendidikan, barang tiruan dalam perdagangan, serta budaya judi di kampung-kampung. Dalam budaya pragmatis dan hedonis itu, ideologi tak mendapat tempat, idealisme hanya tersisa di pojok-pojok sempit ruang kuliah atau kelompok diskusi publik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Permasalahan bangsa ini menjadi begitu kompleks dan berkembang kumulatif, makin lama makin menumpuk dan memuncak, sehingga akhirnya kita sebagai suatu bangsa tak bisa lagi mencari jalan keluar. Akhirnya bangsa ini mengidap permasalahan-permasalahan serius baik secara individu maupun secara kolektif. Permasalahan pertama bersifat psikologis, yakni merajanya &lt;b&gt;rasa cemas&lt;/b&gt; (&lt;i&gt;anxiety&lt;/i&gt;) dan &lt;b&gt;putus asa&lt;/b&gt; (&lt;i&gt;despair&lt;/i&gt;). Kedua &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;bersifat psikososiologis yaitu sifat &lt;b&gt;hina dan malas&lt;/b&gt;. Ketiga bersifat sosioantropologis yaitu sifat &lt;b&gt;jiwa pengecut dan kikir&lt;/b&gt;. Dan yang keempat besifat ekonomi politis, yaitu &lt;b&gt;jeratan utang dan dominasi kekuatan asing&lt;/b&gt; .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Penutup &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-size:11;" &gt;Dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang masih menjangkiti bangsa ini. Momen kebangkitan ini mesti dijadikan sebagai sarana perenungan kita semua. Merenungkan masalah bangsa memerlukan kearifan dan menghendaki disiplin berpikir sistemik. Tak ada satu pun persoalan bangsa yang terlepas kaitannya dari persoalan lain. Hubungan antar perkara itu dapat bersifat positif (membawa perbaikan) atau negatif (memperparah keadaan). Karena itulah kecermatan bekerja dan keluasan wawasan pada segenap komponen bangsa dihajatkan. Jangan sampai para pemimpin bangsa terjebak pada sikap parsial atau sektoral, bukan memecahkan keseluruhan masalah, malah menanam bom waktu yang suatu saat bisa meledak dengan dahsyat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-size:11;" &gt;Oleh karenanya sebagai bangsa yang beriman, kita patut menyimak dan menghayati kembali doa yang diajarkan Nabi Muhammad Saw. Doa itu bermakna: “&lt;i&gt;Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari rasa cemas dan putus asa, aku berlindung kepada-Mu dari sifat hina dan malas, aku berlindung kepada-Mu dari jiwa pengecut dan kikir, aku berlindung kepada-Mu dari jerat utang dan dominasi orang lain&lt;/i&gt;” (HR Abu Dawud).&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-size:10;" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Dalam momen kebangkitan ini juga, bangsa ini perlu kembali menata cara pandang, membiakkan mimpi, memfokuskan masa depan, membangun gairah dan militansi, serta menancapkan cita-cita besar yang hidup dan terasakan di dalam hati. Sehingga energi bangsa ini tidak terbuang dalam gerak &lt;i&gt;chaotic &lt;/i&gt;melingkar, namun mengalir sinergis dan fokus. Untuk itu, kita butuh kehangatan ideologi. Tanpa ideologi manusia hanya berlari mengejar peradaban materi, namun hampa dalam aspek emosi dan spirit. Secara kolektif jadilah kita bangsa yang &lt;i&gt;adem-ayem&lt;/i&gt;, miskin romantika —negara besar, namun dipenuhi dengan manusia kerdil yang tidak punya obsesi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-1219475051729990478?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/1219475051729990478/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=1219475051729990478&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/1219475051729990478'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/1219475051729990478'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2008/06/kecemasan-di-hari-kebangkitan.html' title='KECEMASAN DI HARI KEBANGKITAN'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-7760834603123599198</id><published>2008-04-06T20:21:00.000-07:00</published><updated>2008-07-15T18:15:16.547-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>MASA DEPAN PARPOL ISLAM</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;(Tulisan ini di muat di Harian Fajar Banten 02/05/2008)&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Seringkali kita mendengar orang yang mengatakan bahwa politik itu kotor, penuh dengan muslihat, penuh kebohongan dan kemunafikan. Dunia politik adalah dunia kepura - puraan. Disana tidak ada kesejatian yang ada hanyalah kepentingan. Makanya muncul adagium dalam politik kita bahwa tidak ada musuh atau kawan abadi yang ada hanyalah kepentingan abadi.&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Kalau memang politik itu demikian adanya, maka alangkah jahatnya kahidupan politik itu. Dan sepertinya memang peformansi yang ditunjukan oleh para politisi kita demikian adanya.&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;Sesungguhnya peran agama dalam hal ini islam sangat penting dalam rangka membingkai politik dengan moralitas . Namun &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;yang jadi persoalan adalah, masih banyak yang menganggap bahwa politik&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;tidak berkaitan dengan islam, sehingga yang terjadi adalah praktik - praktik politik &lt;i&gt;machiavellistik&lt;/i&gt; yang digunakan walaupun oleh orang islam. Akhirnya, perilaku politik yang sering kita tonton adalah penipuan, kepura - puraan, ketidak jujuran, intimidasi, suap, manipulasi dan sejenisnya, dianggap sebagai hal yang biasa dalam berpolitik. Karena konsep politik &lt;i&gt;Machiavelli&lt;/i&gt; adalah menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Dalam Islam, pandangan bahwa politik tidak berkaitan dengan islam jelas ditentang. Karena islam juga memandang bahwa politik merupakan bagian dari islam. Yang tentunya islam coba ingin mewarnai dunia politik dengan moralitas yang diajarkan oleh islam itu sendiri. Sedangkan dalam islam tidak menghalalkan cara - cara berpolitik yang kotor. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Namun, mengapa ada suatu pandangan pada sebagaian masyarakat bahwa dunia politik itu sangat kotor padahal partai politik islam dan politisi islam sangatlah banyak yang juga menjadi politisi?. Tentu ada yang salah dengan apa yang ditunjukan oleh para politisi islam ini dengan doktrin - doktrin agama tentang moralitas politik. Ternyata, islam sebagai agama moral belum sejalan dengan moralitas yang ditunjukan oleh para politisi islam dikancah perpolitikan dinegri ini. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;b&gt;Peran Partai Politik Islam&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Era reformasi membawa arus perubahan besar peta perpolitikan nasional. Hal ini ditandai dengan kebebasan berpolitik. Dimana hak - hak rakyat yang selama bertahun - tahun yang diberangus oleh orde baru menemukan kebebasannya, termasuk kekuatan politik&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;islam. Hal itu ditandai dengan banyak para cendikiawan, tokoh - tokoh islam, ulama mendirikan partai politik baik yang berbasis islam maupun nasionalis. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Paska pemilu 1999 menjadi satu momentum penting bagi bangsa ini bahkan umat islam untuk bisa memperbaiki kondisi bangsa yang amat akut masalahnya. Harapan besar pemilu digantungkan kepada partai politik guna pencapaian konsensus yang relatif mudah diantara berbagai kekuatan dalam masyarakat mengenai urgensi pemilu sebagai solusi bagi persoalan besar yang dihadapi bangsa. Persoalan - persoalan besar semisal, demokrasi yang terpuruk, korupsi yang akut, krisis yang berkepanjangan, kepemimpinan yang lemah kesemuanya diandalkan bisa diselesaikan lewat pemilu. Namun, hingga saat ini harapan perubahan yang di gantungkan kepada partai termasuk partai - partai islam masih jauh dari harapan. Bahkan kini bangsa &lt;?xml:namespace prefix = st1 /&gt;&lt;st1:country-region&gt;&lt;st1:place&gt;indonesia&lt;/st1:place&gt;&lt;/st1:country-region&gt; semakin dipersimpangan jalan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Berbicara kembali mengenai partai islam sampai sejauh ini masih belum menunjukan moralitas politiknya secara benar. Sehingga suara - suara ketidakpercayaan terhadap parpol islam pun kerap diungkapkan oleh masyarakat karena perilaku mereka juga tidak jauh berbeda dengan politisi yang lainnya.&lt;/span&gt; &lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Dalam konteks mengahadapi pemilu 2009 pun ketidak percayaan kepada para politisi islam pun menjadi besar. Karena mereka menganggap semua sama saja, ketika mereka berkuasa dianggap korupsi juga. Apalagi, selama ini performansi mereka didunia politik juga sangat mengecewakan. Namun, pertanyaan – pertanyaan itu memang wajar muncul kepermukaan. Pertanyaan – pertanyaan tersebut sebenarnya bukanlah suatu penolakan akan kehadiran para partai politik dan politisi islam dipanggung politik, namun lebih merupakan tuntutan akan konsistensi perjuangan para politisi islam itu sendiri. Karena sesungguhnya masyarakat butuh bukti yang nyata ketimbang janji - janji yang tak pasti.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Sesungguhnya perubahan yang diharapkan oleh masyarakat lewat jalur parlemen tidak akan pernah bisa terwujud selama partai politik islam belum memainkan perannya dengan baik. Paling tidak dalam rangka mewujudkan perubahan dinegri ini, partai politik islam harus memainkan 5 (lima) peranannya. &lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Pertama&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;,&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;b&gt;Peran fundamentasi&lt;/b&gt;. Seharusnya partai politik islam menjadi tempat untuk penginternalisasian nilai - nilai islam bagi para kader dan simpatisannya dengan konsep pembinaan islam secara berkesinambungan. Sehingga perilaku yang dimunculkan adalah perilaku - perilaku yang beradab karena bersumber pada akidah islam. Pada peran fundamentasi ini parpol islam juga seharusnya mensosialisasikan kejelasan visi dan misi serta arah yang akan dicapai. Serta memahamkan bahwa partai politik bukanlah segala - galanya dan hanya merupakan wadah, yang paling penting adalah nilai - nilai islam itu terus bersemai dalam setiap kader partai. Sehingga islam sebagai ajaran moral sejalan dengan moralitas yang ditunjukan pemeluknya dalam hal ini para politisi islam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kedua&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Peran Pendidikan ( Edukasi)&lt;/b&gt;. Sehebat apapun satu partai islam dalam menampilkan performa politiknya tidak akan bisa melakukan perubahan besar untuk bangsa ini, sebab perubahan hanya bisa dilakukan bersama - sama. Oleh karenanya penting bagi partai islam juga untuk menyebarkan nilai - nilai islam ini kepada yang lainnya, dalam bahasanya adalah dakwah. Melalui proses interaksi dan komunikasi menjadi media penting untuk melakukan perubahan perilaku pada politisi yang lain sehingga bisa memunculkan adab - adab yang baik. Artinya pada fungsi ini memberikan pendidikan politik kepada partai yang lain dan masyarakat bahwa berpolitik harus dibingkai dengan moral.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Ketiga,&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; &lt;b&gt;Peran Estetikasi&lt;/b&gt;. Sesungguhnya kehadiran partai islam menjadi pertaruhan tersendiri bagi nama islam. Karena keberadaan mereka diparlemen mengusung bendera islam. Maka, partai dan politisi islam ini dituntut untuk menampilkan perilaku yang terpuji, agar islam yang sudah cantik ini menjadi tidak tercoreng karena ulah dan perilaku dari para partai politik islam. Maka, tugas mereka adalah bagaimana mempercantik islam dengan perilaku yang enak untuk dilihat oleh masyarakat dan menjadi panutan bagi yang lain.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Keempat&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;, &lt;b&gt;Peran Legislasi&lt;/b&gt;. Kehadiran partai islam di parlemen seharusnya dimanfaatkan untuk membuat peraturan yang mengakomodir kepentingan umat islam dengan semisal membuat perda - perda anti kemaksiatan dan juga membuat regulasi yang berpihak kepada keadilan dan kesejahteraan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Kelima,&lt;/i&gt; Peran Reposisi&lt;/b&gt;. Sejatinya kehadiran parpol islam digelanggang politik ini, menjadikan posisi tawar umat islam menjadi meningkat. Partai islam seharusnya menjadi pembela kepentingan umat dan islam menjadi &lt;i&gt;rahmatan lil alamin&lt;/i&gt;.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Jadi, partai politik islam kedepan harus memainkan perannya yang demikian. Jika tidak, kita sebagai masyarakat tidak bisa berharap banyak kepada partai islam yang ada meskipun secara kuantitas agak besar. Kemudian, yang mesti menjadi agenda penting bagi partai islam kedepan adalah bagaimana menyatukan visi&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;dan kejelasan tujuan, bukan lagi terlalu asyik membicarakan koalisi dan aliansi calon presiden. Mereka sesungguhnya telah melupakan kewajiban utama partai politik yaitu, memikirkan, menyusun dan mendiskusikan agenda - agenda reformasi atau agenda perubahan dinegri ini semisal korupsi yang akut, krisis yang berkepanjangan, kepemimpinan yang lemah dan lain sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%" align="justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:0;"&gt;&lt;/span&gt;Menjelang&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;pemilu 2009 ini mudah - mudahan parpol islam bukan hanya disibukan dengan masalah calon presiden saja, melainkan lebih difokuskan pada upaya perbaikan politik umat islam masa depan. Sehingga perkembangan politik islam yang menurut Eep Saefullah Fatah terjebak oleh kekeliruan - kekeliruan lama mereka,&lt;span style="font-size:0;"&gt; &lt;/span&gt;yakni, mereka lebih suka marah ketimbang melakukan politisasi, kalangan islam lebih senang mengurusi kulit ketimbang isi, kalangan islam lebih mudah terpesona kepada keaktoran ( figuritas) bukan pada isme atau wacana yang diproduksinya, perilaku politik islam kerap dilakukan sebagai reaksi bukan proaksi dan umat islam senang membuat kerumunan bukan barisan. &lt;b&gt;&lt;i&gt;Wallahu’alam&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-7760834603123599198?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/7760834603123599198/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=7760834603123599198&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/7760834603123599198'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/7760834603123599198'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2008/04/masa-depan-parpol-islam.html' title='MASA DEPAN PARPOL ISLAM'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-7097457699045683075</id><published>2008-02-27T18:33:00.000-08:00</published><updated>2008-07-10T20:14:58.026-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resonansi'/><title type='text'>BELAJARLAH DARI SINGAPURA</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:85%;"&gt;Belajarlah ke negri singapura. Judul tulisan ini memang terkesan semakin mengecilkan bangsa sendiri. Bangsa kita, Indonesia, adalah bangsa besar. Mungkin begitu fikiran yang ada didalam benak kita. Lalu kenapa kita harus belajar dari Singapura. Negara yang secara teritorial kecil dan juga selalu menyakiti hati bangsa Indonesia. Namun, tak ada salahnya kita belajar dari siapapun, hatta dari orang yang kita anggap musuh sekalipun, begitu orang bijak berpesan.&lt;br /&gt;Dulu, saat awal perekonomian Singapura melaju pesat. Singapura tetap menjadi negara yang cemas. Di tangan Lee Kuan Yew rakyat Singapura diajak selalu siaga. Kepada bangsanya Lee berpidato bahwa masih banyak hal yang masih tidak beres yang harus terus diperbaiki. Lee tidak ingin rakyatnya terlena dengan pertumbuhan ekonomi yang melaju pesat sebab jika rakyatnya terninabobokan dengan pertumbuhan yang luar biasa itu, bisa jadi malah setelah itu ekonomi Singapura terjun bebas.&lt;br /&gt;Barangkali itulah salah satu resep Lee Kuan Yew untuk menjadikan Singapura tetap siaga. Lee tidak pernah mengajak rakyatnya untuk bicara sebuah masa depan yang cerah. Menjual gagasan negara yang adil makmur, rakyat sejahtera. Ia tak pernah mengajak rakyatnya berandai-andai. Ia selalu mengajak bangsanya untuk mawas diri dan selalu siap siaga.&lt;br /&gt;Tapi Indonesia tidak seperti Singapura. Indonesia juga negara yang pernah mengalami pertumbuhan ekonomi yang mencengangkan. Tapi setelah itu terjun bebas dan jatuh pingsan, mungkin koma. Beruntung tidak mengalami kematian. Setelah pertumbuhan ekonomi melaju pesat. Indonesia bisa swasembada beras. Tapi bangsa kita setelah itu tertidur lelap. Seolah esok akan tetap sama terbangun di negeri kaya zamrud khatulistiwa, ingin apa saja tersedia. Namun sungguh sial, negara yang disebut zamrud khatulistiwa ekonominya rontok tidak bersisa. Negara kaya tapi rakyatnya miskin. Bangsa kita khilaf untuk selalu siaga dan waspada. Jadilah kini kita miskin segalanya.&lt;br /&gt;Belajarlah dari singapura. Tentang Lee Kuan Yew yang mengundurkan diri sebagai perdana mentri setalah dua puluh satu tahun berkuasa. Karena ia sadar kekuasaan tak akan selamanya. Maka disiapkanlah calon-calon pemimpin yang akan menggantikannya. Maka Lee pun menyediakan tempat dan melatih para pemimpin baru pada saat mereka muda, sebab Lee sadar bahwa ia dulu mampu menjadi perdana mentri sebelum usia empat puluh tahun. Sungguh usia yang sangat muda. Diindonesia, usia empat puluh tahun belum dipercaya bisa memimpin negara. Belum layak katanya. Jadilah kini negara kita tua renta. Jadi tak ada salahnya kan belajar dari singapura?.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-7097457699045683075?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/7097457699045683075/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=7097457699045683075&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/7097457699045683075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/7097457699045683075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2008/02/belajarlah-dari-singapura.html' title='BELAJARLAH DARI SINGAPURA'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-4617206816590107053</id><published>2007-09-17T23:21:00.000-07:00</published><updated>2008-07-10T20:15:22.142-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>PEMERINTAH DAN KRISIS KEPERCAYAAN</title><content type='html'>&lt;div align="justify"&gt;&lt;span style="font-family:georgia;font-size:85%;"&gt;Dalam harian kompas (3/9/2007) diberitakan bahwa masyarakat tak lagi mempercayai Negara dan birokrasi. Hal ini meyebabkan posisi Negara semakin tambun dan melemah. Padahal Negara memiliki fungsi untuk memberikan kesejahteraan kepada masyarakat dan bukan semakin membebani rakyat. Fenomena seperti kenaikan tol, kontroversi konversi minyak tanah, buruknya pengelolaan transportasi laut, harga-harga sembako yang terus merangkak naik, menjadi penanda semakin lemahnya institusi negara.&lt;br /&gt;Ketidakmampuan Negara dalam memberikan kesejahteraan ini lah yang akhirnya menjadikan rakyat semakin tidak percaya. Padahal kepercayaan (Trust) adalah modal social yang dibutuhkan untuk mengkonkritisasi sejumlah proyek-proyek kesejahteraan social.&lt;br /&gt;Francis Fukuyama (2001), mendefinisikan Trust atau kepercayaan sebagai harapan akan keteraturan, kejujuran dan perilaku kooperatif yang muncul dalam sebuah komunitas yang didasarkan pada norma serta aturan yang disepakati dan dijalankan bersama demi kebaikan dan kemaslahatan bersama. Norma ini bisa berisi persoalan adiluhung berkaitan dengan Tuhan, Agama dan keadilan.&lt;br /&gt;Namun, Kepercayaan agaknya sudah menjadi barang langka di negeri ini. Saling curiga dan berbohong sudah terbiasa. Pejabat terbiasa membohongi rakyat hingga rakyat pun telanjur tidak percaya pada pejabat. Padahal, kepercayaan sangat dibutuhkan bagi pengembangan masyarakat dan kemajuan sebuah bangsa secara ekonomi, politik, sosial dan budaya.&lt;br /&gt;Ketidakpercayaan rakyat bukan hanya pada terjadi pada pejabat atau tokoh politik saja tapi juga pada tokoh-tokoh publik lainnya yaitu, tokoh agama, intelektual, ekonom, seniman, aktifis mahasiswa, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Maka tak heran jika masyarakat tidak lagi pernah peduli dengan persoalan pembicaran tentang perubahan. Fakta seperti ini wajar muncul dimasyarakat. Sebab, janji perubahan yang sejak dahulu di gembar gemborkan oleh semua kalangan tak juga kunjung tiba. Hal ini menyebabkan rakyat menjadi frustasi, putus asa dan kehilangan motivasi dalam menyikapi persoalan pembangunan.&lt;br /&gt;Reformasi dan demokratisasi yang hadir pada tahun 1998 tentu menjadi tumpuan harapan publik akan perbaikan bangsa ini. Namun, sejak reformasi dicetuskan dan demokrasi mulai tumbuh ternyata perubahan nasib rakyat tak kunjung datang. Mimpi kesejahteraan yang dahulu menggelayut tatkala reformasi diperjuangkan seolah kini raib entah kemana. Jadilah kini reformasi dan demokrasi menjadi tertuduh. Cukup banyak orang menyalahkan reformasi sebagai penyebab kehidupan dinegri ini menjadi lebih sulit. Reformasi semakin menyebabkan rakyat menjadi repot-nasi. Harga-harga mahal, sekolah masih tetap mahal, PHK terjadi dimana-mana, pengangguran semakin meningkat serta kemiskinan yang semakin tak terkendali.&lt;br /&gt;Kondisi ini persis seperti yang ungkap oleh Eef saefullah Fatah : Demokratisasi adalah pergumulan antara harapan dan kekecewaan, kabar baik dan kabar buruk, masa depan yang benderang dan masa lampau yang gulita. Sejak reformasi tahun 1998 sampai saat ini, membuktikan betapa harapan, kabar baik, dan masa depan benderang tak selalu jadi pemenang. Ia tak hanya menghasilkan para pemenang dan penikmat tapi juga para pecundang dan korban. Bagi sebagian kita, hal-hal baik yang dijanjikan demokratisasi datang terlalu lamban, malu-malu, satu persatu, sementara hal-hal buruk dibaliknya dan yang semestinya dilawannya justru selalu menyalip, datang lebih cepat dan berombongan. Ia pun jalan panjang, melelahkan dan seolah tak berujung.&lt;br /&gt;Lantas, apakah kita mesti berputus asa dengan situasi yang serba pelik itu. Disatu sisi demokrasi adalah jembatan kebebasan untuk menentukan perjalanan hidup menuju perbaikan, disisi lain demokrasi memiliki jebakan lain yaitu kebebasan yang tak terkendali, politik yang carut marut, pertikaian, konflik, pembangunan ekonomi yang terhambat sehingga kesejahteraan yang dijanjikan oleh demokrasi semakin kabur dan bak fatamorgana.&lt;br /&gt;Krisis Legitimasi&lt;br /&gt;Tentu saja krisis kepercayaan ini akan menimbulkan krisis politik yang berlarut-larut tanpa solusi, membuat borok-borok makin bau, ditambah kurangnya kapabilitas dan komitmen para lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif. Kemudian hal ini akan menyebabkan –seperti yang disebut Habermas- munculnya krisis legitimasi, yaitu krisis yang bercirikan ketidak percayaan terhadap lembaga-lembaga penyelenggara negara .&lt;br /&gt;Setelah krisis legitimasi, akan muncul krisis pamungkas, yakni krisis motivasi - hilangnya semangat dan timbul rasa putus asa dari sebagian besar rakyat Nusantara terhadap tingkah polah para pemimpinnya. Krisis motivasi akan menurunkan produktifitas kerja sub sistem sosio kultural yang diperlukan oleh sub sistem ekonomi, lalu ketidak percayaan terhadap sistem politik.&lt;br /&gt;Penghianatan Agen&lt;br /&gt;Masalah ketidakpercayaan ini muncul tentu bukan berarti tidak adanya manusia baik dinegri ini. Hanya saja para ”agen perubahan” yang sudah menjadi icon public hampir kebanyakan berselingkuh dan berkhianat terhadap komitmen perubahan. Mereka berkhianat, menghindar atau menyalahgunakan peran dan fungsi yang selayaknya mereka mainkan di tengah masyarakat untuk perubahan.&lt;br /&gt;Sejarawan Inggris, Arnold Toynbee, menggarisbawahi peranan para agen perubah dalam teori "minoritas kreatif". Mereka potensial menjadi sejumlah kecil orang yang memiliki energi lebih besar dari masyarakatnya yang letih, memiliki kejernihan di tengah lautan kekeruhan pikiran di sekitarnya, memiliki semangat jauh lebih besar dari masyarakatnya yang putus asa, memelihara dan terus menyebarluaskan optimisme akan besok yang lebih baik di tengah luapan pesimisme di sekitar mereka. Dan, peradaban besar, kata Toynbee, tidak pernah dibangun oleh orang banyak, tetapi oleh orang sedikit semacam itu.&lt;br /&gt;Namun, bangsa kita saat ini tengah mengalami kelangkaan manusia-manusia seperti itu. Kita telah banyak mengalami defisit agen perubah, baik dari kalangan birokrat, politisi, seniman, aktifis mahasiswa, kaum agamawan, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;Para birokrat berkhianat menjadi pelayan bangsa, bahkan mereka menjadikan diri mereka raja. Urusan publik menjadi lancar kalau ada ”uang siluman”. Para politisi tidak lagi sibuk mengurusi masalah regulasi dan penganggaran yang berpihak kepada urusan-urusan publik. Mereka hanya sibuk mengotak-atik angka –angka sejumlah proyek, main intrik politik dan semacam dagelan lainnya. Para seniman tidak lagi menjadi pengkritik-pengkritik sosial politik yang ulung. Para seniman kini lebih asyik menjadi agen-agen pemerintah. Lebih senang kepada seni popular, karena budaya pop lah yang sedang trend kemudian melupakan tugas untuk membantu membangun karakter bangsa lewat seni.&lt;br /&gt;Para agamawan tak lepas dari persoalan serupa. Selayaknya mereka memainkan peranan sebagai pembentuk kesadaran dan kekuatan serta perebut kesempatan bagi para jemaah mereka. Selayaknya mereka membangun kesadaran jemaah untuk tidak beragama secara buta, melainkan secara rasional dan dewasa. Alih-alih membangun jemaah seperti itu, para agamawan cenderung senang termanjakan para pengultus, pengikut dan massa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadikan Diri Kita Agen&lt;br /&gt;Krisis yang melanda bangsa saat ini bukanlah merupakan bahaya besar bangsa ini. Jadi ia tidak perlu disesali apalagi dikutuk. Kita hanya perlu menyadari bahwa defisit ”agen perubahan” lah problem yang paling besar dalam era demokrasi saat ini. Hal itu menandakan kelangsungan hidup atau kehancuran sebuah bangsa.&lt;br /&gt;Namun tentu kita tak perlu berharap menantikan kembali hadirnya para agen seperti kita sedang menunggu godot atau ratu adil. Sesungguhnya agen perubahan bukan hanya mereka yang berprofesi sebagai pejabat publik, aktifis mahasiswa, seniman, budayawan, kaum agamawan, dan tokoh-tokoh publik lainnya. Agen perubahan juga bukanlah tokoh suci dari langit yang diturunkan ke bumi untuk menyelesaikan persoalan manusia dengan mukjizat, secepat kilat dan kemudian kembali lagi ke langit.&lt;br /&gt;Para agen itu tentu saja sudah ada disini. Mereka ádalah aku, kau, dan kita semua. Kita hanya belum memulai untuk memberikan yang terbaik bagi orang-orang di sekeliling kita. Merakit kerja-kerja kecil jadi sebuah gunung. Orang-orang biasa seperti itulah yang kita butuhkan yang mampu melakukan kerja-kerja besar. Bukan orang-orang yang tampak besar tapi hanya melakukan kerja-kerja kecil lalu menulisnya dalam autobiografinya.&lt;br /&gt;Membangun kualitas orang per orang yang tak bergantung pada tokoh atau agen adalah jalan keluar dari defisit agen dan meluasnya ketidakpercayaan pada tokoh yang makin menggejala di tengah kita. Tokoh atau agen memang penting, tetapi yang lebih penting adalah membangun orang per orang yang justru terus terjaga dan pada akhirnya ikut menjaga dan mengawasi peran-peran keagenan dan ketokohan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-4617206816590107053?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/4617206816590107053/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=4617206816590107053&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/4617206816590107053'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/4617206816590107053'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2007/09/pemerintah-dan-krisis-kepercayaan.html' title='PEMERINTAH DAN KRISIS KEPERCAYAAN'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-1525210660395758777</id><published>2007-08-07T09:56:00.000-07:00</published><updated>2008-07-10T20:15:52.466-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>MEREBUT KEMBALI KEMERDEKAAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Mungkin saat ini dari istana kepresidenan sampai tingkat RT sedang menyiapkan pesta dan lomba-lomba menyambut hari kemerdekaan bangsa indonesia. Mulai dari lomba balap karung sampai panjat pinang menjadi bagian rutinitas pengisi perayaan hari kemerdekaan dinegri ini. Tentu, kita semua bersyukur atas Rahmat Allah SWT – seperti yang tercantum dalam pembukaan UUD’45 - kemerdekaan dari penjajah akhirnya bisa dinikmati oleh rakyat indonesia. Namun, sesungguhnya tujuan kemerdekaan yang telah kita dapatkan ini bukan hanya lepas dari belenggu penjajahan fisik saja, namun dari bentuk penjajahan yang lain. Penjajahan ekonomi, penjajahan politik dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Times New Roman','serif';" &gt;&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Dan yang tidak boleh terlupakan adalah, bahwa sesungguhnya tujuan kemerdekaan yang telah kita nikmati ini adalah untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, memajukan kesejahteraan umum dan ikut serta dalam ketertiban dunia. &lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Times New Roman','serif';" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Namun, sejak kemerdekaan dulu negeri kita belum berjalan dengan baik dan masih tertatih dalam membangun negri ini . Pada dasarnya, hidup kita terasa semakin sulit. Masih banyak sekali orang miskin disekitar kita. Penderitaan makin banyak. Terhitung sejak kemerdekaan dulu, berapa generasi kini sudah beranjak dewasa, bahkan tua . Kebanyakan dari mereka mendapat banyak kesulitan agar bisa bertahan hidup dan ingin meninggalkan negeri ini. Mereka bersedia bekerja keras di Arab Saudi, malaysia dan negara lainnya yang jauh dari tanah air dan terpisah dari orang-orang yang mereka kasihi. Mereka sudah bersedia diperlakukan secara hina oleh majikan mereka dinegara-negara tersebut yang hanya sekedar mendapat upah beberapa dolar lebih banyak untuk menghidupi keluarganya di rumah.&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Times New Roman','serif';" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="DE" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="DE" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Hutang Luar Negri&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Kita baru sedikit sekali membangun negeri ini dan tidak punya tabungan apa-apa untuk masa depan anak – anak kita. Para politisi kita mengambil keputusan yang amat tidak bijaksana. Mereka telah meminjam sejumlah besar uang dari barat. Kita berhutang sangat besar sekali yang jumlahnya lebih besar dari anggaran belanja negara kita..&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Times New Roman','serif';" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Meminjam uang dari negara lain tak ubahnya dengan Anda dan Saya berhutang kepada bank setempat atau kepada seorang teman. Hutang pribadi kita, tentunya menjadi tanggung jawab kita sendiri. Akan tetapi, kalau pemerintah kita meminjam dari negara lain, kita semua yang bertanggung jawab untuk melunasinya. Jika saja, hutang luar negeri ini secara bijaksana ditanamkan atau digunakan kepada hal yang lebih produktif, seharusnya kita sudah lama berada dalam keadaan yang lebih baik dan mampu melunasi hutang kita. Sayangnya, hampir semua pinjaman itu digunakan untuk kegiatan konsumtif. Bahkan sekitar 30 % hutang tersebut telah dikorup. &lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Times New Roman','serif';" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Selama ini, hampir setiap hutang disebutkan sebagai bantuan luar negeri dan perincian tingkat bunga serta berapa utang yang sudah dibayar tidak boleh diketahui oleh rakyat. Akhirnya, kita melunasi hutang – hutang kita dengan dengan menjual aset-aset negara kita, menggadaikan sumber daya alam kita.&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Times New Roman','serif';" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Hutang luar negeri semacam ini semakin membuat kita miskin, hutang ini juga membuat standar hidup kita menjadi rendah, tapi kita tidak menyadarinya. Para politisi kita banyak menciptakan dalih. Bagaimanapun juga mereka telah menjual negeri ini sepotong demi sepotong, menguras habis sumber mineral kita dan menimbun hutang yang akan dibebankan diatas pundak kita dan anak-anak kita.&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Times New Roman','serif';" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Kita dulu telah mampu mengalahkan belanda dan jepang dan memperoleh kemerdekaan, tapi kita belum mampu membebaskan diri kita sendiri dari jerat ekonomi yang telah dipasang oleh negara-negara barat. Kita tidak bisa melihat musuh kita, tapi hanya merasakan kehadirannya dalam segala tingkat kehidupan kita, inilah imperialisme baru, yang dirancang untuk mempertahankan dominasi negara-negara barat atas negeri , politik dan kehidupan kita.&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Times New Roman','serif';" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Jika anda terus menerus meminjam uang untuk menghidupi keluarga anda dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, cepat atau lambat anda harus menjual harta milik anda, rumah dan tanah anda untuk melunasi hutang. Ini tidak boleh dibiarkan, negara-negara barat punya hak untuk menggadaikan negara kita, mereka bisa mengklaim hampir semua yang kita miliki, tanah dan sumber-sumber mineralnya, mereka telah mencengkram negeri kita. Mereka mempengaruhi hampir semua yang kita lakukan dinegeri ini, politik kita dan cara hidup kita.&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Times New Roman','serif';" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Kita memiliki negeri yang elok dengan gunung yang indah dan hamparan lautnya yang luas. Kita telah mewarisi budaya yang amat baik sejak dulu. Rakyat kita suka bekerja keras, rajin, taat hukum dan punya dedikasi. Hanya saja saat ini, rakyat kita membutuhkan bimbingan, macam bimbingan yang tepat dan contoh yang baik yang akan memperbaiki kehidupan mereka dan anak-anak mereka dimasa depan.&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Times New Roman','serif';" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Times New Roman','serif';" &gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Mungkin kita perlu waktu untuk mengejar ketertinggalan dari negeri negeri barat, tapi kita bisa melakukannya. Jika kita kehilangan kesempatan ini, negeri kita bersama negara-negara dunia ketiga lainnya akan menjadi negeri yang kumuh ditengah masyarakat barat. &lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Times New Roman','serif';" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: normal"&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-family:'Arial','sans-serif';"&gt;Bangsa Klien&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;span style="font-family:'Times New Roman','serif';"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="DE" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Menurut Kuntowijoyo - Melalui modal dan produk, kita menjadi klien Amerika, Eropa, Jepang, Taiwan, &lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Korea Selatan, Singapura, dan RRC. Melalui tenaga kerja Indonesia (TKI)/ tenaga kerja wanita (TKW), kita menjadi klien Malaysia dan Timur Tengah. &lt;/span&gt;&lt;span lang="DE" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Melalui teve, kita menjadi klien Amerika, Jepang, Amerika Latin, Taiwan, dan India. Melalui utang, kita menjadi klien IMF, Bank Dunia, ADB, CGI, dan IDB.&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Times New Roman','serif';" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="DE" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Tentu kita masih menggantungkan harapan kita kepada SBY dan JK untuk dapat mengubah bangsa klien menjadi bangsa mandiri. &lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Sementara itu, mentalitas kita pun juga harus berubah. Pada tahun 1945, kita sudah berubah dari bangsa terjajah menjadi bangsa mandiri. Kemudian kita terpuruk menjadi bangsa klien. Kalau salah urus, dari bangsa klien kita bisa &lt;/span&gt;&lt;span lang="DE" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;jadi bangsa kuli, dari bangsa kuli menjadi "gelandangan di rumah sendiri"-istilah Emha Ainun Nadjib.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="DE" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Karena sekarang ini kita menjadi bangsa klien, mentalitas kita telah rusak. Agar supaya mentalitas itu tidak mengganggu kesehatan mental elite dan massa, harus dilakukan perubahan. Perubahan itu ialah dari bangsa klien kembali jadi bangsa yang mandiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="MARGIN-BOTTOM: 0pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Times New Roman','serif';" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV" style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;Marilah kita berusaha agar jangan terjatuh kelubang ketidak berdayaan dan hidup tanpa harapan. Ingat ! Tuhan membantu orang-orang yang menolong diri mereka sendiri. Oleh karena itu dalam momentum kemerdekaan ini, kesadaran untuk bangkit dari keterpurukan adalah keniscayaan. Dan mari kita rebut kemerdekaan kita kembali. sehingga kita menjadi bangsa yang sungguh-sungguh merdeka dan mandiri sebagai sebuah bangsa!. &lt;i&gt;Wallahu’alam.&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="LINE-HEIGHT: 150%;font-family:'Arial','sans-serif';" &gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-1525210660395758777?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/1525210660395758777/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=1525210660395758777&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/1525210660395758777'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/1525210660395758777'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2007/08/merebut-kembali-kemerdekaan.html' title='MEREBUT KEMBALI KEMERDEKAAN'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-380081655132549672</id><published>2007-05-30T20:28:00.001-07:00</published><updated>2008-07-10T20:16:30.293-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resonansi'/><title type='text'>KEJANTANAN DAN KEKSATRIAAN</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Salah satu kebaikan pra islam yang diambil alih oleh kaum muslimin adalah &lt;i&gt;muru’ah&lt;/i&gt; (kejantanan). Kejantanan didefiniskan dalam kamus-kamus arab klasik sebagai pemantangan terhadap hal-hal haram, kesucian dalam perilaku, dan penguasaan seni atau perdagangan; atau dalam menahan diri untuk tidak melakukan secara diam-diam apa yang akan menjadikan seseorang malu jika melakukannya secara terbuka; atau dalam kebiasaan melakukan apa yang diperbolehkan, dan dalam menghindari apa yang dianggap hina; atau dalam menjaga jiwa dari tindakan-tindakan kotor.&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;Para sufi memandang kejantanan sebagai salah satu kebajikan yang tertanam dalam jiwa ketika ia mewujudkan sifat-sifat aktif dari ruh. Dalam karyanya Khawaja’Abdullah Ansharu mengatakan pilar kejantanan ada tiga : hidup dengan diri sendiri dengan akal, dengan makhluk-makhluk dalam kesabaran, dan dengan Tuhan melalui kebutuhan. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-family:Arial;"&gt;Tanda hidup dengan diri sendiri dengan akal ada tiga : mengetahui ukuran diri sendiri, melihat dimensi-dimensi pekerjaan sendiri, dan berjuang demi kebaikan diri sendiri. Tanda hidup dengan makhluk-makhluk dalam kesabaran ada tiga: merasa puas dengan meraka ketika mereka kuat, membela mereka, dan berbuat untuk keuntungan mereka ketika kamu kuat. Tanda hidup dengan Tuhan melalui kebutuhan ada tiga : selalu bersyukur atas apapun yang datang dari-Nya, selalu memaafkan diri sendiri untuik apappun yang dilakukan demi Dia, dan menganggap pilihan-Nya adalah benar..&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-family:Arial;"&gt;Sebagai suatu ciri watak, kejantanan terkait erat dengan &lt;i&gt;futuwwah&lt;/i&gt;, yang menandakan kedermawanan, kebebasan, dan kemuliaan hati. Dan hal ini juga bisa diartikan sebagai ”kekstariaan”. Ia berasal dari kata &lt;i&gt;fata&lt;/i&gt; yang berarti ”pria muda”. Keksatriaan merupakan sifat dan karakteristik yang melekat dalam sejarah islam. Contoh sempurna dari sifat kekesatriaan adalah ’Ali, saudara sepupu dan menantu Nabi, khalifah keempat dan pejuang terbesar dalam sejarah islam. Menurut beberapa sumber, setelah perang uhud, ketia ’Ali membuktikan keberaniaanya yang tiada tara, terdengar malaikat berseru ”Tidak ada pedang selain Dzu’l-Fiqar. Tidak ada&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;fata &lt;/i&gt;kecuali ’Ali”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-family:Arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span lang="SV"  style="font-family:Arial;"&gt;Qusyairi mengemukakan sejumlah perkataan menyangkut keksatriaan. Akar dari keksatriaan adalah bahwa hamba itu terus menerus berjuang demi kepentingan orang lain. Keksatriaan adalah bahwa kamu tidak menganggap dirimu lebih unggul dibanding yang lain. Orang yang mempunyai sifat ksatria adalah orang yang tidak mempunyai musuh. Keksatriaan adalah bahwa kamu menjadi musuh dari jiwamu demi Tuhanmu. Kekstariaan adalah bahwa kamu bertindak secara adil tanpa menuntut keadilan bagi dirimu sendiri. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-380081655132549672?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/380081655132549672/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=380081655132549672&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/380081655132549672'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/380081655132549672'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2007/05/kejantanan-dan-keksatriaan.html' title='KEJANTANAN DAN KEKSATRIAAN'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-287484518769571974</id><published>2007-05-10T20:17:00.001-07:00</published><updated>2008-07-10T20:16:50.855-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resonansi'/><title type='text'>MENANGIS</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lelaki itu menangis saat ia berjalan menaiki podium. Ia diminta memberikan sambutan seusai ia terpilih menjadi seorang pemimpin organisasinya. Dalam sambutannya ia mengucapkan dengan agak gemetar ”Saya pernah berjanji dalam hati saya, bahwa saya hanya akan menangis saat ibu saya meninggal. Tapi saat ini saya tidak tau kenapa saya menitikan air mata”. &lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lelaki tersebut adalah kawan saya. Ia baru saja diberikan amanah sebagai ketua umum salah satu organisasi. Ia menangis bukan karena ia cengeng bak drama yang melankolis. Ia menangis karena ia menyadari bahwa menjadi pemimpin adalah amanah. Ia bukan hanya bertanggungjawab atas dirinya semata tapi aia juga mesti bertanggungjawab atas sekian kepala anggota-anggotanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Lelaki itu menangis. Sama seperti halnya saya yang juga pernah sama-sama diberikan amanah serupa. Kami menangis bukan karena kami cengeng, lelaki yang lemah atau tidak perkasa. Menangis adalah simbolisasi dari ketakutan dan kecemasan. Takut dan cemas tidak dapat menjalankan amanah dengan baik. Sebab segala sesuatu akan dimintakan pertanggungjawaban dihadapan Allah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-family:arial;"&gt;Sungguh, menitiknya air mata kawan saya dan juga saya adalah ekspresi jiwa yang sangat biasa. Meskipun dinegri kami lelaki tak boleh menitikan air mata. Cengeng katanya. Hanya perempuan yang boleh bersedih Tapi kami akan tetap menangis sebagai simbol ketakutan kepada Allah. Maka menangislah. Karena menangis itu indah.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-287484518769571974?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/287484518769571974/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=287484518769571974&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/287484518769571974'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/287484518769571974'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2007/05/menangis_10.html' title='MENANGIS'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-7664466492999671494</id><published>2007-02-26T19:51:00.000-08:00</published><updated>2008-07-10T20:17:10.541-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resonansi'/><title type='text'>MENSELEKSI KEHIDUPAN</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp2.blogger.com/_TmJnAjdM81U/ReOrQ1vKKmI/AAAAAAAAAAc/LycVchQuZwc/s1600-h/image_05.gif"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5036057114121480802" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_TmJnAjdM81U/ReOrQ1vKKmI/AAAAAAAAAAc/LycVchQuZwc/s320/image_05.gif" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoBodyText2" style="LINE-HEIGHT: 150%; FONT-FAMILY: trebuchet ms; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Mungkin sebagian kita merasakan kehidupan yang kosong, hampa dan membosankan. Kosong bukan berarti tanpa aktifitas. Melainkan kehidupan ini terlalu penuh dan sesak dengan aktifitas. Hanya saja aktifitas kita kehilangan nilai kualitasnya. Barangkali kisah Anne Morrow Lindbergh,dalam&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;em&gt;Gift from the Sea&lt;/em&gt; dapat memberikan pelajaran kehidupan pada kita. Kisah ini merupakan serangkaian meditasi Lindbergh pada hari-hari liburnya di pantai suatu pulau. Ketika ia mengemasi barang-barangnya untuk meninggalkan pulau itu, Lindbergh bertanya kepada diri sendiri, apa yang ia peroleh dari semua upaya meditatifnya: “Jawaban atau solusi apakah yang telah saya temukan untuk kehidupan saya? Saya mendapat beberapa gelintir kerang dalam kantong, sedikit petunjuk, sedikit sekali.” Ia mengingat-ingat hari pertamanya di pulau itu, dan menyadari betapa rakusnya ia mengumpulkan kerang pada mulanya: “Kantong-kantong saya menggembung dengan kerang-kerang basah ... Di pantai ini terhampar kerang-kerang indah dan saya tidak membiarkan satu pun lolos dari perhatian saya. Saya bahkan tak bisa berjalan dengan kepala tegak seraya memandang lepas ke laut, karena khawatir akan melewatkan sesuatu yang amat berharga di kaki saya.” Masalahnya dengan cara pengumpulan kerang (atau berwawasan) ini adalah bahwa “naluri keserakahan itu tidak selaras dengan apresiasi sejati terhadap keindahan.” Namun setelah kantong-kantongnya mulur sampai batas peregangannya dengan kerang-kerang basah, ia mendapati perlunya kekurangserakahan: “Saya mulai membongkar barang-barang saya, untuk diseleksi.” Kemudian ia sadar bahwa mustahil menghimpun semua kerang indah yang ia lihat: “Kita bisa mengoleksi sedikit saja, dan yang sedikit tersebut lebih indah.” Bisakah kita mengasosiasikannya dengan wawasan filosofis? Barangkali bisa, karena Lindbergh sendiri menggeneralisasikan pelajaran yang ia peroleh dengan mengatakan “hanya dengan terbingkai dalam ruanglah keindahan itu mekar. Hanya dalam ruanglah peristiwa, obyek, dan manusia itu unik dan signifikan—dan karenanya indah.”&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/div&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; FONT-FAMILY: trebuchet ms; TEXT-ALIGN: justify"&gt;Bahwa&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;keindahan membutuhkan ruang dan selektivitas, mendorong Lindbergh untuk mempertimbangkan kembali alasan-alasan mengapa kehidupannya di rumah cenderung kekurangan kualitas signifikansi dan keindahan, begitu pula yang ia alami di pulau itu. Barangkali kehidupan tampaknya tidak bermakna bukan karena kosong, melainkan karena terlalu penuh: “sedikit sekali ruang yang kosong. ... Terlalu banyak aktivitas yang berharga, hal yang bernilai, dan orang yang menarik. ... Kita bisa mempunyai ... kantong-kantong yang penuh sesak, yang di dalamnya terdapat satu atau dua hal yang akan signifikan.” Akan tetapi, berada di pulau itu memberi dia ruang dan waktu untuk melihat kehidupan dengan cara baru. Disini&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;ada waktu; waktu untuk tenang; waktu untuk bekerja tanpa tekanan; waktu untuk berpikir ... waktu untuk melihat bintang ... bahkan, waktu untuk &lt;em&gt;tidak&lt;/em&gt; berbicara.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-7664466492999671494?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/7664466492999671494/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=7664466492999671494&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/7664466492999671494'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/7664466492999671494'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2007/02/menseleksi-kehidupan.html' title='MENSELEKSI KEHIDUPAN'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_TmJnAjdM81U/ReOrQ1vKKmI/AAAAAAAAAAc/LycVchQuZwc/s72-c/image_05.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-6842333657586041223</id><published>2007-02-05T19:37:00.000-08:00</published><updated>2008-07-10T20:17:36.338-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>CITRA BURUK LEMBAGA LEGISLATIF</title><content type='html'>&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Seorang sahabat pernah bertanya kepada saya setelah saya selesai menjadi ketua salah satu organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan di Banten. Ia bertanya tentang rencana dan hal apa yang ingin saya capai kedepan. Saya jawab secara spontan saja &lt;i&gt;“Pokoknya saya mo nyalon legislative tahun 2009”&lt;/i&gt;. Padahal jawaban saya juga tidak terlalu serius-serius amat. Tapi &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;kawan saya tadi mengomentari rencana saya tersebut. Ia bilang berjuang itu masih banyak lahan yang lain bukan hanya jadi anggota dewan, lagian jadi anggota dewan kerjaannya nggak halal. Begitulah kira-kira kawan saya mengomentari tentang legislatif. Saya sempat berfikir dan bertanya-tanya, apakah memang seburuk itukah citra lembaga legislatif dan anggota dewan? . Ternyata menjadi anggota dewan dianggap pekerjaannya tidak halal dan cenderung berperilaku korup. Jangan-jangan komentar kawan saya tadi mewakili persepsi hampir seluruh masyarakat terhadap lembaga legislatif dan anggota dewan.&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ternyata benar saja, persepsi kawan saya tadi ternyata tidak jauh berbeda dengan hasil survei TII (Transparency International Indonesia) yang menempatkan parlemen atau legislatif sebagai lembaga terkorup di Indonesia. Hal ini tentu bukanlah berita yang mengagetkan. Berita tersebut lebih berperan menguatkan daripada mengagetkan. Sebab, performa lembaga perwakilan rakyat memang sudah tidak terlalu baik.&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mungkin benar, seperti yang dikatakan Ketua DPR Agung Laksono, dalam penelitian tersebut, ada faktor kesalahan. Namun, tingkat kesalahan itu -seandainya ada- bisa dipastikan tidak akan mengurangi tingkat kepercayaan masyarakat terhadap hasil survei TII tersebut.&lt;span lang="SV"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Mengapa demikian? Jawabannya, -sekali lagi- karena tingkat kepercayaan rakyat kepada dewan memang sudah sedemikian rendah. Sudah sekian lama rakyat disuguhi berita korupsi yang melibatkan dewan. Rakyat juga menyaksikan, banyak perilaku dewan yang mengarah ke tindak korupsi. Juga perilaku tidak etis lainnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Buruknya citra lembaga legislative semakin jelas saja semenjak dikeluarkan PP No.37 tahun 2006 yang memberikan banyak tunjangan kepada anggota dewan. Kebijakan ini merupakan suatu regulasi yang dibuat untuk memberikan "subsidi" yang sangat besar kepada wakil rakyat di daerah-daerah.. Penggunaan keuangan daerah yang sudah seharusnya lebih diutamakan untuk kepentingan publik menjadi terabaikan dengan adanya PP 37/2006 dikarenakan alokasi yang cukup besar harus disiapkan untuk para anggota dewan daerah sehingga alokasi-alokasi untuk kepentingan publik harus dipangkas untuk memenuhi tuntutan para anggota dewan .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Keberadaan PP 37/2006 telah melanggar azas pengelolaan keuangan Negara yaitu: efesien, ekonomis, kepatuhan, disiplin anggaran dan keadilan. Dengan adanya kenaikan penghasilan anggota dewan yang dibebankan dalam APBD merupakan suatu bentuk ketidak sesuaian dengan azas pengelolaan keuangan Negara. Dalam APBD disyaratkan yang lebih diutamakan adalah peningkatan pelayanan dasar, pendidikan, penyediaan pelayanan kesehatan, fasilitas social dan fasilitas umum. &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tentu saja sangat tidak etis menambah jumlah tunjangan ditengah situasi masyarakat yang masih hidup dalam kemiskinan.Padahal&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;kinerja lembaga legislatif selama ini sangat tidak memuaskan. Ditambah lagi kesulitan ekonomi yang masih membelit rakyat. Hal inilah yang semakin memperburuk citra lembaga legislatif yang dianggap kerjanya hanya duduk, dengar dan duit.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-ALIGN: justify;font-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Perilaku Korup&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ada sebagian bahkan hampir seluruh anggota legislatif kita masih tetap merasa kurang mendapat gaji dan tunjangan. Padahal jumlah gaji dan tunjangan untuk mereka sangatlah besar. Yang menjadikan para anggota legislatif kita selalu merasa kekurangan adalah karena sebagian gaji mereka harus mereka setorkan ke partai mereka masing-masing. Belum lagi sebagian masyarakat kita yang juga menganggap para anggota legislatif adalah orang yang berduit. Maka, proposal-proposal permohonan bantuan dana menumpuk dimeja para anggota legislatif kita. Tentu saja jika tidak memberi uang akan dianggap pelit dan khawatir tidak dipilih lagi pada periode mendatang. Padahal budget mereka dari gaji tentu tidaklah cukup untuk meladeni permintaan masyarakat atau konstituen mereka. Maka jadilah para anggota dewan tersebut bermain proyek, korupsi dan sebagainya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tugas besar para anggota legislatif kedepan adalah memperbaiki citranya. Agar lembaga legislatif tidak lagi dianggap lembaga korup, tidak berpihak kepada rakyat, tidak hanya duduk, dengar dan duit saja. Hal ini mutlak dilakukan. Sebab, bagaimana mungkin cita-cita untuk memperbaiki nasib masyarakat ini akan terwujud jika tidak ada kepercayaan dari masyarakat yang notabene adalah yang memberikan mandat untuk memperjuangkan nasib rakyat. Padahal kepercayaan &lt;i&gt;(Trust)&lt;/i&gt; menurut Francis Fukuyama adalah modal sosial &lt;i&gt;(Social Capital)&lt;/i&gt; yang sangat dibutuhkan untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tentu saja krisis kepercayaan ini akan menimbulkan krisis politik yang berlarut-larut tanpa solusi, membuat borok-borok makin bau, ditambah kurangnya kapabilitas dan komitmen para anggota legislatif. Kemudian hal ini akan &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;menyebabkan –seperti yang disebut Habermas- munculnya &lt;strong&gt;krisis legitimasi&lt;/strong&gt;, yaitu krisis yang bercirikan ketidak percayaan terhadap lembaga-lembaga penyelenggara negara .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Setelah krisis legitimasi, akan muncul krisis pamungkas, yakni &lt;strong&gt;krisis motivasi &lt;/strong&gt;- hilangnya semangat dan timbul rasa putus asa dari sebagian besar rakyat Nusantara terhadap tingkah polah para pemimpinnya. Krisis motivasi akan menurunkan produktifitas kerja sub sistem sosio kultural yang diperlukan oleh sub sistem ekonomi, lalu ketidak percayaan terhadap sistem politik.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Oleh karena itu anggota legislatif kita kedepan dalam rangka memperbaiki citranya&lt;span style="font-size:+0;"&gt; &lt;/span&gt;hendaknya lebih peka kepada persoalan masyarakat dan melakukan tugas dan fungsi secara baik. Baik dari aspek legislasi, budgeting maupun pengawasan terhadap kinerja eksekutif. Dan yang lebih penting lagi adalah bagaimana para anggota legislatif kita memproduksi kebijakan-kebijakan yang lebih berpihak kepada rakyat. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p style="TEXT-INDENT: 0.5in; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Jika perilaku anggota legislatif tak juga kunjung membaik. Maka, malapetaka dahsyat tidak akan kunjung surut menerpa negri kita. Kalau masyarakat tidak percaya lagi kepada anggota legislatif yang notabene adalah wakil mereka. Lantas, kepada siapa suara dan aspirasi akan kita titipkan kelak untuk memperjuangkan nasib ini ?. &lt;i&gt;Wallahu’alam.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:trebuchet ms;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span style="font-family:trebuchet ms;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-6842333657586041223?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/6842333657586041223/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=6842333657586041223&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/6842333657586041223'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/6842333657586041223'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2007/02/citra-buruk-lembaga-legislatif.html' title='CITRA BURUK LEMBAGA LEGISLATIF'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-804559826696717143</id><published>2007-01-31T19:47:00.000-08:00</published><updated>2008-07-10T20:17:54.973-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Artikel'/><title type='text'>JANGAN TITIPKAN REFORMASI PADA SIAPAPUN!!!</title><content type='html'>&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 27pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Sewindu reformasi seakan tak ada artinya jika rakyat masih sulit mendapatkan nasi. Perilaku korup masih menggejala dalam jiwa para birokrat, politisi bahkan rakyatnya. Namun tentu saja kita juga berbahagia karena cengkraman tirani telah tumbang. Demokratisasi dan era kebebasan menjadi ”imbalan” yang bisa kita nikmati kini. &lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="blockmateri" style="TEXT-INDENT: 27pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hanya saja, saat ini rakyat telah melewati masa kebebasannya dan kebutuhannya menjadi mendesak adalah dalam peningkatan demokrasi ekonomi bukan lagi demokrasi politik. Selama ini terbentang jarak antara demokrasi dengan harapan rakyat mendapatkan nasi. Padahal rakyatlah yang selama ini bekerja keras memperjuangkan dan membangun rumah indonesia serta memberikan yang terbaik . Namun rakyat tak pernah menikmati hasilnya. Hanya segelintir elitlah yang menikmati kue pembangunan di negri ini. Hal &lt;span style="font-size:+0;"&gt;&lt;/span&gt;ini persis seperti apa yang dikatakan oleh Soekarno dalam kitabnya Di Bawah Bendera Revolusi &lt;i&gt;” Rakyat jelata berkorban membangun rumah indonesia yang megah, tapi mereka tak pernah menikmatinya” .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="blockmateri" style="TEXT-INDENT: 27pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Jadilah kini, delapan tahun –menginjak sembilan tahun- reformasi ternyata menampakkan wujudnya yang sejati. Sebuah perebutan bangkai gajah oleh ribuan belatung yang tak bisa kenyang, dengan kebusukan yang membahana menjadi hal biasa. Terlalu sibuk mengurusi sempalan sempalan daging busuk pengurus negeri ini yang mengabaikan tiang terkuat dari suatu negara; warga negara yang notabene rakyat jelata!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="blockmateri" style="TEXT-INDENT: 27pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Tentu saja proses reformasi ini tidak boleh menjadi repetisi sejarah kelam perjuangan rakyat. Sebagaimana telah terjadi pada fase-fase sebelumnya. Hal ini akan mengakibatkan rakyat menjadi jenuh dan muak dengan janji-janji elit. Kalau sebelumnya rakyat berjuang untuk mendapatkan kebebasannya, bukan tidak mungkin suatu saat rakyat akan lari dari kebebasannya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="blockmateri" style="TEXT-INDENT: 27pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Oleh karena itu, kita harus memastikan bahwa proses reformasi nanti bukanlah merupakan janji kosong tanpa harapan. Bahwa ia merupakan sejarah yang pasti arahnya. Sejarah yang mampu mengembalikan kepercayaan dan optimisme rakyat .&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="TEXT-INDENT: 36pt; LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justify"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Seperti juga penulis-penulis dalam buku ini – yang semuanya masih sangat muda- tidaklah pesimis melihat keadaan. Optimisme itu tetap muncul. Banyak hal yang hendak mereka perbuat. Jika meminjam puisinya Chairil Anwar- &lt;i&gt;Tapi kerja belum selesai , belum apa-apa – kami sudah beri kami punya jiwa- kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa&lt;/i&gt;. Yang kini dibutuhkan hanyalah komitmen-komitmen baru. Terutama dari kaum muda. Sebab, kaum mudalah yang punya masa depan dan pewaris sah negri ini. Estafeta reformasi harus terus disambut oleh pejuang-pejuang baru. Biarlah mereka yang dulu memperjuangkan reformasi sekarang berdiam diri dan menikmati gelimang kekuasaan. Atau sebagiannya lagi putus asa karena reformasi tak juga berujung pada perbaikan yang diharapkan. Tapi Reformasi tak pernah mati. Yang mati adalah hati nurani kita. Dan ingat pesan beberapa penulis dalam buku ini. &lt;b&gt;Jangan titipkan reformasi pada siapapun!!.&lt;/b&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-804559826696717143?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/804559826696717143/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=804559826696717143&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/804559826696717143'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/804559826696717143'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2007/01/jangan-titipkan-reformasi-pada-siapapun.html' title='JANGAN TITIPKAN REFORMASI PADA SIAPAPUN!!!'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-116765448174479477</id><published>2007-01-01T04:14:00.000-08:00</published><updated>2008-07-10T20:18:58.251-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Puisi'/><title type='text'>PUISI UNTUK PAHLAWAN</title><content type='html'>PAHLAWAN (1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gelisah tak mengapa&lt;br /&gt;tapi jangan kau tinggalkan medan juang.&lt;br /&gt;Takut tak apa lah&lt;br /&gt;sebab kita manusia biasa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;jangan...I jangan sampai sakratul maut perjuangan menjemput&lt;br /&gt;Tetaplah disini sampai hari ini dan nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, kita sedang menorehkan tinta.&lt;br /&gt;Hanya setetes tak mengapa&lt;br /&gt;Kecil saja. itu cukup!&lt;br /&gt;Dan kau menjadi pahlawan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serang, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAHLAWAN (2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadang kau bertanya&lt;br /&gt;Siapakah pahlawan itu?&lt;br /&gt;Kau, aku atau siapa ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh !&lt;br /&gt;Tak perlu kautanyakan itu&lt;br /&gt;Kerja saja!. itu cukup untuk menjawab&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu risau kau dikenang atau tidak&lt;br /&gt;goreskan saja sejarahmu&lt;br /&gt;disini. di imperium ini&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka kau akan dicatat&lt;br /&gt;Dalam sejarah yang hebat&lt;br /&gt;Bukan disini&lt;br /&gt;Di negri abadi !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serang, 2005&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PAHLAWAN (3)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak ada upacara penghormatan&lt;br /&gt;seperti jendral gugur dimedan perang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Biasa. Biasa saja&lt;br /&gt;sebab pahlawan adalah manusia biasa&lt;br /&gt;Tak perlu mati dalam peperangan&lt;br /&gt;agar kau dikenang&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin saat sakratul maut menjemput&lt;br /&gt;kau hanya di antar beberapa teman&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak mengapa&lt;br /&gt;Sebab catatan kepahlawananmu bukan itu&lt;br /&gt;Sebab telah kogoreskan sendiri&lt;br /&gt;dalam Buku Besar TUHAN&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serang, 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-116765448174479477?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/116765448174479477/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=116765448174479477&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/116765448174479477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/116765448174479477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2007/01/puisi-untuk-pahlawan.html' title='PUISI UNTUK PAHLAWAN'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-116321755636022712</id><published>2006-11-10T19:46:00.000-08:00</published><updated>2008-07-10T20:19:22.847-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerpen'/><title type='text'>KOTA GOLOK</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp3.blogger.com/_TmJnAjdM81U/ReOvhFvKKnI/AAAAAAAAAAo/B0ifepXqJM0/s1600-h/Efek-37.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5036061791340866162" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_TmJnAjdM81U/ReOvhFvKKnI/AAAAAAAAAAo/B0ifepXqJM0/s320/Efek-37.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;b&gt;*OLEH : HAMAMI ALBANTANI&lt;/b&gt;&lt;?xml:namespace prefix = o /&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ratusan kendaraan berjajar menanti penumpang. Lentingan klakson memecah telinga. Suara - suara orang terdengar bersahutan. &lt;span lang="SV"&gt;Dari sebelah kanan, dari depan gerbang terminal, datang bus berwarna kuning melaju tidak terlalu kencang. Orang - orang bergegas berebutan turun dari mobil itu. &lt;/span&gt;Mereka menjadi mangsa para calo yang menarik paksa para penumpang. Suasana terminal begitu panas, mengundang selera orang untuk bisa saling menghujat, bahkan sampai membunuh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Anto menarik nafas dalam - dalam, tanda lega keluar dari paksaan para calo. Dibiarkannya dulu urat nadinya kendur. &lt;span lang="PT-BR"&gt;Melepas lelah setelah perjalanan jauh dari kotanya. &lt;/span&gt;Anto tampak&lt;span lang="PT-BR"&gt; lega karena akhirnya ia sampai pada kota yang ditujunya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kota yang menjadi tempat Anto untuk melanjutkan studinya. Ia diterima kuliah dikota ini di fakultas ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Kota yang sangat ingin dikunjunginya sejak lama. Sebab Emaknya selalu bercerita tentang kota ini, tentang lautnya, tentang perdagangannya dan keramahan orang - orangnya, walaupun mereka amat tegas.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Emak nya adalah orang yang pernah merantau di kota tersebut. 5 tahun berjualan bersama Bapaknya. Usahanya mengalami kerugian setelah pasar yang menjadi tempat usahanya selama ini terbakar habis. Menurut Emaknya pasar itu entah terbakar atau ada yang sengaja membakar. Setelah itu, Mak dan Bapak Anto memutuskan untuk kembali kekampung halaman. Membangun kembali usaha dari nol di kampung sendiri.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Terdengar suara lengkingan klakson bus. Seketika, Anto tersadar dari lamunanya. Ia memperhatikan sekeliling terminal. Ia merasa asing dan aneh dengan keadaan sekitar. Dilihatnya diterminal itu banyak orang berbaju hitam dengan golok dilengannya. &lt;/span&gt;Tak aneh bila diterminal banyak preman, tapi ini lain. Preman - preman yang ada diterminal manapun memang bertampang seram tapi tak pernah terang - terangan membawa golok. Lalu siapakah mereka ? Premankah atau bukan ? Anto bertanya pada diri sendiri.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Rasa lapar mambuat Anto menjadi melupakan keanehan yang dilihatnya. Segera saja ia bergegas menuju sebuah warung makan. Tapi, sesampainya diwarung itu ia menemukan keanehan kembali. Sambil duduk diwarung makan itu, ia melihat sekeliling terminal. Ia menemukan seluruh rumah makan tidak ada yang berbeda , semua tokonya bertuliskan merek yang sama. Tidak seperti yang ada dikota lain, atau dikotanya sendiri yang ada berbagai rumah makan dari banyak kota lainnya. Rasa penasaran itu membuat Anto bertanya kepada pelayan warung. Pelayan warung itu seorang perempuan yang belum terlalu tua, sekitar tiga puluh limaan usianya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“ Bu, rumah makan disini kok sama semua ya ?. Siapa sih orang - orang yang berpakaian hitam - hitam itu? “ Anto mengajukan pertanyaan yang kedua sebelum yang pertama dijawab. “ Oh, iya mas, rumah makan disini harus sama semua, untuk memberikan identitas kota ini , katanya sih begitu . Trus orang - orang yang pakai hitam - hitam itu untuk mengamankan .Ini dimulai sejak Gubernur kota ini diganti lho mas “. Pelayan itu melanjutkan.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Emang Gubernurnya siapa sekarang “. Tanya Anto menyelidik. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Orang sih memanggilnya dengan, Jendral “ Jawab pelayan itu.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Emang dia dari militer, Bu ?. Tanya Anto lagi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Oh, bukan ! “&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: centerfont-family:arial;" align="center" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Anto masih menyimpan rasa penasarannya. &lt;/span&gt;Ia berjalan seperti ada sesuatu yang dipikirkannya. Anto berjalan menuju kampus barunya untuk sekedar melihat. Karena memang letak kampusnya yang tak jauh dari terminal. Orientasi kampus dimulai dua hari lagi. Besok hanyalah pengumuman tentang perlengkapan yang harus dibawa. Tapi, hari ini Anto harus sudah mendapatkan tempat kost - kostan yang dekat dengan kampus.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Sambil lewat depan kampus, Anto kembali dikagetkan dengan keadaan kampusnya yang juga banyak orang berpakaian hitam. Tapi jaraknya agak jauh, orang - orang itu berada agak didalam kampus. Jadi Anto kemudian menyimpulkan bahwa itu adalah jas almamater kampusnya. Tapi kenapa harus hitam ?. Tapi Anto tak mau berlama - lama dalam pertanyaan yang menurutnya tidak substansial ini.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: centerfont-family:arial;" align="center" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Malam ini Anto gunakan untuk melepas lelah, setelah kepenatan seharian dalam perjalanan. Anto mendapatkan rumah kost-an itu sore tadi setelah berkeliling sekitar 4 jam. Rumah Kost-an Anto tak jauh dari kampusnya. &lt;/span&gt;Letaknya tepat dibelakang kampus. Pemilik kost-annya adalah seorang ibu - ibu yang sudah menjanda. &lt;span lang="PT-BR"&gt;Malam itu dilalui Anto hanya untuk melepas lelah dan berbenah. Besok Anto harus kekampus, ada pengumuman dari panitia orientasi kampus. Setelah itu Anto punya rencana untuk jalan - jalan untuk beli buku mata kuliah sekalian melihat - lihat.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;/span&gt;Siang itu kampus baru Anto terlihat ramai. &lt;span lang="SV"&gt;Nampak mahasiswa baru berhamburan keluar dari masing-masing Aula Jurusan setelah menerima pengarahan. Anto langsung saja bergegas kedepan kampus dan menyetop angkot. Ia menuju ke pertokoan , sesuai dengan informasi dari teman barunya yang bernama Sardi. Sardi kebetulan asli orang kota tersebut. Tapi Sardi tidak bisa mengantar .&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;Sesampainya dipertokoan itu, Anto berkeliling untuk melihat - lihat dan mencari buku untuk mata kuliahnya. Buku tentang ekonomi. Tapi, sudah lima toko ia datangi tak juga ia menemukan buku yang dicarinya. Bahkan, Anto merasa heran karena ia banyak menemukan judul - judul buku ditoko itu yang aneh - aneh.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;CARA BERBISNIS DENGAN GOLOK. GOLOK SENJATA AMPUH BERSAING BISNIS. GOLOK, CARA EFEKTIF MEMENANGKAN PROYEK. Itulah beberapa contoh judul buku yang ada. Dan setiap buku ekonomi atau bisnis, selalu ada bahasa goloknya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“ Bang, ngga ada buku karangan Prof. Pintar sekali ?“. &lt;/span&gt;Tanya Anto kepada salah seorang penjual&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Wah, buku begituan ngga laku disini mah, De!. Kata orang - orang sini mah, ilmunya nggak cocok sama keadaan daerah ini, makanya disini, buku tentang ekonomi dan bisnis kebanyakan penulisnya dari daerah ini yang tahu kondisi. Buku yang lain mah percuma, ngga sesuai dengan lapangan”. Jawab Penjual Buku.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Anto hanya bisa terbengong dan terdiam sambil ngeloyor pergi tanpa pamitan sama si penjual. Dalam hatinya tengah berkecamuk akan keanehan kota yang baru didatanginya ini. Diterminal, dikampus dan di toko buku yang baru didatanginya tadi semuanya menyimpan misteri bagi Anto. &lt;span lang="SV"&gt;Tapi Anto tidak tahu apa yang sebetulnya terjadi dengan kota ini.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: centerfont-family:arial;" align="center" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hari ini adalah hari pertama acara orientasi kampus. Anto datang pagi - pagi sekali, sesuai perintah kakak panitia. Hari pertama adalah pemberian materi dari rektor kampus itu. Seluruh mahasiswa berkumpul diaula yang tidak terlalu besar, tapi cukup menampung seluruh mahasiswa baru yang ada di Fakultasnya. Walaupun suasananya agak sesak. &lt;span lang="SV"&gt;Anto kebagian duduk dibelakang bersama Sardi temannya yang asli orang kota itu.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;“ Itu rektor kita, To” Sardi memulai pembicaraan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Oh itu, Pak Prof. Hebat Sekali “. Kata Anto&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Tahu nggak To, kabarnya dia punya gelar profesor karena penemuannya tentang jurus baru untuk melakukan bisnis kelas tinggi “&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Itu hasil pertapaannya selama 10 hari di Gunung Karang lo, To “ Sardi melanjutkan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Penelitian apaan tuh, kok digunung , pake tapa lagi” ?. &lt;span lang="SV"&gt;Tanya Anto sambil mengerutkan dahinya.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;“ Tenang To, kita juga nanti tahu karena jurus baru itu akan diajarin sama kita “&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Anto semakin bingung dengan apa yang dilaluinya. Kemarin tentang golok, sekarang jurus, apaan lagi nih?. Anto ngomong sendiri dalam hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ ……….Jadi, untuk bisa eksis menjadi pebisnis maka kita harus punya kekuatan, punya senjata. Sebab persaingan dalam bisnis begitu keras. Bapak hanya tidak ingin, mahasiswa yang lulusan kampus ini kalah dalam persaingan karena kurangnya ilmu dan kekuatan. makanya nanti akan Bapak ajarkan jurus baru yang baru Bapak temukan”. Sang Rektor berorasi didepan mahasiswanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Anto semakin tidak paham dengan semua ini. &lt;/span&gt;“Kampus apa ini, kota apa ini” ?. Anto mengeluh dalam hati.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: centerfont-family:arial;" align="center" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;*****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Malam ini Anto merasa pusing. &lt;/span&gt;Entah apa yang dipikirkannya. &lt;span lang="PT-BR"&gt;Orientasi kampus selesai sore tadi. Malam ini Anto merasa gelisah. Lalu Anto putuskan untuk jalan - jalan untuk melepas kepenatan dan fikiran yang mengganggu kepalanya.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Anto berjalan - jalan disekitar terminal dekat kampusnya. Sebetulnya ia tidak tahu kemana akan melangkah. &lt;/span&gt;Suasana terminal malam itu tidak terlalu ramai. Hanya beberapa Bus yang sedang menunggu penumpang. Anto terus berjalan mengitari terminal. Tapi Anto seketika menjadi kaget, lima orang pemuda berpakaian hitam dengan golok ditangannya mencegat Anto.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Ayo serahkan semua uangmu”. &lt;span lang="SV"&gt;Bentak salah seorang pemuda yang mencegat Anto.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“ Saya nggak punya uang, Bang “ jawab Anto.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;“ Jangan bohong kamu, atau saya sembelih” Ancam mereka.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;mereka menggeledah kantong Anto dan mendapatkan dompet yang berisi uang lima pulur ribu dan KTP didalamnya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“ Ayo teman - teman kita pergi, kita sudah dapat uangnya. Lumayan buat beli golok baru, biar kita bisa hidup disini” kata salah seorang pemuda itu.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;Anto tidak berani teriak. Karena tempat itu begitu sepi. &lt;span lang="SV"&gt;Dan orang - orang itu cepat sekali menghilangnya dibalik pasar , dibelakang terminal.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Tubuh Anto masih terlihat lemas. &lt;/span&gt;Ia sangat ketakutan sekali. Tapi ia bersyukur, golok itu hanya dikalungkan dilehernya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Ia memutuskan untuk lapor ke pos polisi yang ada didepan terminal. Anto berjalan menuju depan dan memasuki pos polisi.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Tapi, Anto merasa heran dengan penjaga dipos itu. Ada tiga orang jumlahnya, semuanya berpakaian hitam dan lengkap dengan goloknya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;“ Ada apa , De ?” tanya seorang penjaga ketika Anto masih terlihat bingung.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;“ Ini pos polisi pak ?. &lt;span lang="PT-BR"&gt;Anto balik bertanya.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;“ Iya betul, ada apa ? . Jawab salah seorang polisi&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;&lt;/span&gt;“ Saya mau lapor pak, saya tadi habis dicegat oleh lima orang, bawa golok semua. Uang saya diambil lima puluh ribu sama dompetnya, didalamnya ada KTP saya pak ”. Anto menjelaskan.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Ade, aslinya orang mana ?”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Saya baru disini pak, saya mahasiswa”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Oh… pantes !. Trus ade, ngga bawa golok ?“ &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Ngga Pak !”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;“ Kalo disini, keluar malam - malam itu harus bawa golok, De, kalo ngga, pasti kejadiannya kayak ade. Kalau ade bawa golok pasti nggak kenapa - napa, sebab golok itu identitas kota ini. &lt;span lang="SV"&gt;Jadi, saya sarankan, kalo ade keluar malam - malam lagi harus bawa golok”.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Lalu Anto langsung saja pamit sama sang penjaga dengan hati kecewa dan bertanya - tanya. Kenapa harus Golok, Golok dan Golok. Bisiknya dalam hati. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: centerfont-family:arial;" align="center" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;****&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Hari ini adalah hari pertama Anto masuk perkuliahan. Anto dan Sardi kebetulan satu kelas. &lt;span lang="SV"&gt;Mata kuliah yang pertama diajarkan adalah mata kuliah Manajemen Proyek. Dosennya adalah seorang praktisi yang telah begitu berpengalaman dalam menangani proyek-proyek pembangunan, kebetulan saat ini ia adalah pemegang tender pembangunan gedung dewan perwakilan rakyat daerah di kota tersebut. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;”...Jadi, kalau kita mau mendapatkan proyek dari pemerintah itu tidak cukup dengan proposal tender, tetapi harus dengan sedikit ancaman, kalo tidak, kita tidak akan dapat proyek. Terus jangan lupa kita harus membagi berapa persen keuntungan untuk anggota dewan dan juga dinas terkait, biar tender berjelan mulus”. Dosen itu masih terus menjelaskan tentang cara memenangkan proyek. Tapi Anto semakin terlihat pusing dan tidak mengerti.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: centerfont-family:arial;" align="center" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;****&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hampir lima tahun Anto berada di kota ini untuk belajar. Ia merasakan ada kekuatan yang dahsyat yang begitu berpengaruh di kota ini. Sebagai mahasiswa yang punya sense of crisis Anto merasa prihatin dengan apa yang terjadi di kota ini. Anto bergabung dalam barisan gerakan mahasiswa untuk melakukan perlawanan terhadap kekuatan yang menghegemoni kota ini. Anto saat ini telah menjadi aktifis mahasiswa.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Pagi itu kampus tampak terlihat lebih ramai. &lt;/span&gt;Puluhan mahasiswa berbaris memegang poster dan panji-panji. &lt;span lang="SV"&gt;Nampak sang orator bersemangat memberikan orasinya, tidak lupa lagu-lagu perjuangan dinyanyikan juga. Anto terlihat gagah dengan megaphone ditangannya. &lt;/span&gt;&lt;span lang="PT-BR"&gt;Anto hari ini memimpin demonstrasi untuk menolak para pelaku premanisme proyek. &lt;/span&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Nampak dari poster-poster yang mereka tuliskan. HENTIKAN KEKUATAN OTOT. STOP PREMANISME PROYEK. UNGKAP PROYEK-PROYEK BERMASALAH. Para demonstran akan melakukan Longmarch dari kampus ke gedung DPRD. Hari ini adalah pengesahan APBD. Dari sinilah kepentingan para elit,pengusaha dan kelompok kepentingan lainnya mulai bermain. Demonstrasi merupakan pilihan yang mesti diambil, sebab para anggota dewan terlalu bebal untuk diajak berdialog, tuntutan kita hanya ditampung kemudian masuk kedalam tong sampah. Ungkap Anto pada diri-sendiri. Ia begitu geram melihat ketimpangan dan ketidak adilan yang terjadi di kota ini.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Anto saat ini telah menjadi aktifis gerakan mahasiswa yang hebat. Ia dikenal oleh teman-temannya sebagai aktifis ulung. Ia selau menjadi pemimpin demonstrasi-demonstrasi yang dilakukan oleh gerakan mahasiswa. Baginya demonstrasi merupakan jalan untuk melawan tirani dan ketidakadilan penguasa terhadap rakyat.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Demonstran sebentar lagi sampai didepan gedung DPRD. Ratusan orang berpakaian hitam lengkap dengan goloknya berjaga-jaga. Mahasiswa tidak gentar. Orasi terus menerus dilakukan. Polisi tidak lebih banyak dari orang yang berpakaian hitam. Mahasiswa hanya bisa berdemo di jalan didepan gedung Dewan.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hampir setiap hari mahasiswa demontrasi. Bulan ini nampaknya berita dikoran akan selalu diwarnai berita demontrasi mahasiswa. Hampir sebulan penuh mahasiswa terus menerus mendatangi gedung dewan untuk menyampaikan aspirasinya. Mereka meminta Hentikan segala bentuk premanisme proyek yang ada digedung dewan. Bahkan sempat satu minggu mereka menginap digedung dewan agar tuntutannya dipenuhi.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Hari ini Mahasiswa kembali demonstrasi. Anto tak nampak dalam demonstrasi itu. Sudah hampir satu minggu Anto sangat terlihat sibuk. Teman-temannya pun sangat sulit menemuinya. Anto memang saat ini telah memasuki tahun terakhir masa kuliahnya. Skripsinya satu tahun ia tinggalkan. kiriman dari orang tua sering macet. Anto kadang mengalami kesulitan uang. Saat ini ia butuh uang untuk menyelesaikan skripsinya. Ia juga harus menyiapkan masa depannya setelah kuliah. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="LINE-HEIGHT: 150%; TEXT-ALIGN: justifyfont-family:arial;" &gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;span lang="SV"&gt;Demonstran kembali menuju gedung DPRD, kepanasan kembali, berteriak kembali, menuntut lagi. Tetapi ketika teman-temannya berada diluar gedung kepanasan sedang berdemonstrasi, Anto tampak sedang bercakap-cakap dengan beberapa Anggota Dewan didalam gedung. Lalu datanglah seorang yang sepertinya begitu berpengaruh bagi kota ini. Orang inilah yang selama ini di panggil dengan sebutan, Jendral !. Pakaiannya hitam lengkap dengan goloknya. Semua menyalami bahkan mencium tangannya dan juga Anto !.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal"  style="font-family:arial;"&gt;&lt;!--[if !supportEmptyParas]--&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt; &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;!--[endif]--&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-116321755636022712?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/116321755636022712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=116321755636022712&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/116321755636022712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/116321755636022712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2006/11/kota-golok.html' title='KOTA GOLOK'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_TmJnAjdM81U/ReOvhFvKKnI/AAAAAAAAAAo/B0ifepXqJM0/s72-c/Efek-37.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-35029395.post-115970741495434388</id><published>2006-10-01T05:48:00.000-07:00</published><updated>2008-07-10T20:19:42.438-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Resonansi'/><title type='text'>Keberkahan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://bp0.blogger.com/_TmJnAjdM81U/ReOxaVvKKoI/AAAAAAAAAA0/K_3OTdfEY48/s1600-h/soal4-1.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5036063874400004738" style="FLOAT: left; MARGIN: 0pt 10px 10px 0pt; CURSOR: pointer" alt="" src="http://bp0.blogger.com/_TmJnAjdM81U/ReOxaVvKKoI/AAAAAAAAAA0/K_3OTdfEY48/s320/soal4-1.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="TEXT-ALIGN: justify"&gt;Dalam dunia materialis seperti saat ini. Uang dianggap menjadi sesuatu yang paling dibutuhkan. Maka tak heran jika ada orang yang menganggap uang adalah segala-galanya. Dalam situasi semacam ini godaan materialisme tentu banyak menggelincirkan banyak orang. Banyak orang merasa selalu tidak cukup dengan harta yang dimiliki. Hingga akhirnya melakukan korupsi, mencuri, dan sebagainya.&lt;br /&gt;Begitulah kini. Orang cenderung berfikir materialis. Semua serba dihitung matematis. Selalu merasa tidak cukup dengan uang seratus ribu, dua ratus ribu dan seterusnya. Memang, hidup di tengah kondisi yang sulit seperti ini materi menjadi sesuatu yang sangat penting. Namun, bukan berarti kita harus menjadi materialistis. Semua diukur dari nominalnya.&lt;br /&gt;Cerita tentang kawan saya barangkali bisa menyadarkan kita semua. Kawan saya. Ia tidak memiliki gaji yang cukup dalam ukuran standar. Ia hanya bergaji 200 Ribu rupiah per bulan . Tapi ia memberanikan diri menikah setelah lulus kuliah. Padahal untuk ukuran materi, gaji 200 ribu belumlah cukup untuk biaya hidup. Tapi ia yakin dengan pilihannya. Ia mantap menikah!.&lt;br /&gt;Kini, setahun sudah usia pernikahan kawan saya. Ia kini sudah memiliki rumah, motor dan satu orang buah hatinya. Sungguh, sesuatu yang sulit dihitung dengan logika. Tapi hidup bukan hanya bersandar pada logika tapi juga keimanan. Rezeki akan selalu datang dari tempat yang tak terduga meski penghasilan kita kecil. Namun dengan keimanan dan usaha yang sungguh-sungguh Allah telah memberikan keberkahan.&lt;br /&gt;Keimanan inilah yang melahirkan keberkahan. Dalam situasi yang serba keterbatasan, keyakinan terhadap diri sendiri, kepada cita-citanya, keyakinan kepada Allah merupakan sebuah kekuatan yang mampu mengalahkan keterbatasan itu. Itulah yang disebut berkah. Inilah kuncinya! Semua mengalami pertumbuhan dan pertambahan melebihi nilai nominalnya. Berkah terjadi pada sesuatu yang sedikit namun menghasilkan banyak.&lt;br /&gt;Oleh sebabnya Umar berkata kepada Amru Bin Ash dalam sebuah suratnya “ Tidak akan pernah sanggup mengalahkan orang-orang kafir dengan kecukupan sarana dan banyaknya jumlah tentara kita. Kita hanya dapat mengalahkan mereka karena kita beriman dan mereka kafir, karena kita bertakwa dan mereka bermaksiat.” .&lt;br /&gt;Dengan keimanan dan ketakwaan inilah yang akan menjadikan kita memiliki kekayaan yang sesungguhnya. Meskipun nominalnya sedikit, namun menghasilkan banyak. Keimanan, keikhlasan, kejujuran, keberanian dan tawakal berpadu menjadi sebuah kekuatan. Inilah puncak spiritualitas. Hal inilah yang akan mampu memberikan keberkahan kepada kita. Keberkahan menjelaskan kepada kita suatu hukum bahwa sedikit bisa menghasilkan banyak.. Wallahu’alam.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/35029395-115970741495434388?l=hamami-nata.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://hamami-nata.blogspot.com/feeds/115970741495434388/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=35029395&amp;postID=115970741495434388&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/115970741495434388'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/35029395/posts/default/115970741495434388'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://hamami-nata.blogspot.com/2006/10/keberkahan.html' title='Keberkahan'/><author><name>Hamami-Nata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/17993983936534760011</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='32' src='http://1.bp.blogspot.com/_TmJnAjdM81U/TEepyvph6YI/AAAAAAAAAH8/ecZBT2ZpXDQ/S220/hamami.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp0.blogger.com/_TmJnAjdM81U/ReOxaVvKKoI/AAAAAAAAAA0/K_3OTdfEY48/s72-c/soal4-1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry></feed>
